Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH) pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (7/10/2025), dengan menguat 0,36% atau 29,38 poin ke level 8.169,28. Kenaikan ini menandai optimisme pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Related Post
Perdagangan hari ini didominasi oleh sentimen positif, tercermin dari jumlah saham yang menguat sebanyak 280, berbanding 401 saham yang mengalami penurunan, serta 119 saham yang stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp 28,74 triliun dengan volume 44,56 miliar saham dalam 3,17 juta transaksi.

Sektor-sektor unggulan dengan kapitalisasi pasar besar turut mendorong laju IHSG, termasuk saham-saham milik konglomerat. Saham PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) milik Prajogo Pangestu menjadi motor penggerak utama dengan lonjakan 24,72% ke Rp 2.220 per saham, berkontribusi 18,15 poin pada IHSG. Saham PT Barito Pacific (BRPT) juga naik 3,5% ke Rp 4.140 per saham, menyumbang 8,72 poin, diikuti oleh PT Chandra Daya Investasi (CDIA) yang melesat 11,50% ke Rp 2.230 per saham, dengan kontribusi 7,04 poin. Selain itu, saham Grup Lippo, PT Multipolar Technology (MLPT), kembali menyentuh Auto Rejection Atas (ARA) dengan kontribusi 7,84 poin. Saham BBRI, BBCA, dan BMRI juga turut memberikan andil positif pada pergerakan IHSG.
Pekan ini, pasar akan disuguhi berbagai data dan agenda penting, baik dari dalam maupun luar negeri. Rilis data ekonomi dari Bank Indonesia (BI), risalah rapat The Federal Reserve (The Fed), serta perkembangan terkait penutupan pemerintahan Amerika Serikat akan menjadi faktor penentu arah IHSG dan nilai tukar rupiah.
Fokus investor saat ini tertuju pada data cadangan devisa (cadev) dan uang primer (M0) September 2025 yang akan dirilis oleh BI. Pada Agustus 2025, posisi cadev tercatat sebesar US$150,7 miliar, turun dari US$152,0 miliar pada Juli 2025. Selain itu, penguatan harga komoditas logam industri seperti timah juga menjadi perhatian, mengingat dampaknya terhadap kinerja emiten pertambangan dan sektor ekspor nasional. Harga timah dunia telah menembus rekor tertinggi dalam 6 bulan terakhir, didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap berkurangnya pasokan dari Indonesia dan Myanmar.
Di sisi lain, sentimen positif juga datang dari arus modal asing yang kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Setelah mencatatkan net sell besar-besaran di akhir September, dana asing mulai kembali masuk dan mencatatkan net buy dalam dua hari berturut-turut. Net buy tercatat hampir Rp 200 miliar pada hari Jumat dan melonjak menjadi Rp 2 triliun pada perdagangan kemarin.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar