IHSG Tertekan Isu Politik dan Gejolak Global

IHSG Tertekan Isu Politik dan Gejolak Global

haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan performa yang kurang memuaskan pada perdagangan sesi pertama, Rabu (4/11/2026). Indeks yang menjadi barometer pasar modal tanah air ini ditutup melemah ke level 4.860,94, merosot sebesar 43,35 poin atau turun sekitar 0,88 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

COLLABMEDIANET

Pergerakan indeks di pagi hari sempat menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi. Setelah dibuka pada level 4.856,96, IHSG sempat terperosok hingga menyentuh titik terendah di angka 4.824,36. Sempat ada upaya pemulihan yang membawa indeks naik hingga ke level 4.902,71, namun momentum penguatan tersebut tidak bertahan lama. Menjelang akhir sesi pertama, indeks kembali melandai dan tertahan di kisaran 4.850 hingga 4.870. Adapun nilai transaksi yang tercatat mencapai Rp5,36 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 148,83 juta lot.

IHSG Tertekan Isu Politik dan Gejolak Global
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Melemahnya IHSG ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif, baik dari dinamika politik dalam negeri maupun ketidakpastian ekonomi global. Salah satu isu domestik yang paling menyita perhatian adalah skandal penyadapan yang melibatkan Presiden Prabowo Subianto. Kasus ini telah memicu kegaduhan politik setelah Bareskrim Polri menetapkan tiga tersangka, termasuk tiga perwira tinggi Polri, terkait dugaan penyadapan ilegal dan penghapusan data elektronik. Situasi ini dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas politik dan meningkatkan persepsi risiko investasi di Indonesia.

Dari kancah internasional, pasar global tengah menyoroti hasil Pemilu Semester (midterm elections) di Amerika Serikat. Hasil pemilu ini diprediksi akan mengubah peta kekuatan politik di AS, di mana Partai Demokrat berpeluang besar merebut kendali atas Kongres dari tangan Partai Republik pimpinan Donald Trump. Selain itu, data ketenagakerjaan AS (JOLTs) yang menunjukkan kenaikan lowongan kerja secara tak terduga juga menjadi perhatian, yang berpotensi memengaruhi kebijakan moneter di sana.

Meski demikian, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memberikan catatan optimis terkait fundamental ekonomi nasional. KSSK menilai stabilitas sistem keuangan Indonesia masih dalam kondisi terjaga meski dihantam tekanan geopolitik dan kenaikan harga energi. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tetap tangguh di angka 5,4 hingga 5,5 persen pada tahun 2026, didorong oleh konsumsi rumah tangga dan program-program strategis pemerintah.

Selain itu, aliran modal asing (net inflow) yang masuk ke pasar keuangan Indonesia hingga Oktober 2026 tercatat masih positif, mencapai US$13,23 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pasar saham sedang mengalami tekanan, kepercayaan investor terhadap instrumen keuangan lainnya, seperti Surat Berharga Negara (SBN), masih cukup kuat. Investor kini tengah menunggu rilis data neraca perdagangan Amerika Serikat yang diharapkan dapat memberikan arah baru bagi pergerakan dolar AS dan pasar keuangan dunia.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar