haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG gagal mempertahankan momentum positif yang sempat tercipta di awal perdagangan. Pada penutupan sesi pertama Jumat 18 September 2026 indeks acuan bursa saham Indonesia ini kembali terperosok ke zona merah.

Related Post
Data terkini dari pasar menunjukkan IHSG anjlok 22,69 poin atau setara 0,35 persen mengakhiri sesi di level 6.439,74. Sepanjang paruh pertama hari ini IHSG sempat menyentuh puncak 6.521 namun juga terendah di 6.433.

Pergerakan pasar didominasi oleh tekanan jual terlihat dari 429 saham yang melemah berbanding 213 saham yang menguat sementara 321 saham lainnya stagnan. Total nilai transaksi mencapai sekitar Rp 7,5 triliun dengan volume perdagangan mencapai 14,4 juta saham.
Sektor kesehatan menjadi pendorong utama pelemahan IHSG dengan penurunan 1,5 persen diikuti oleh sektor keuangan yang terkoreksi 1,4 persen dan sektor real estate yang juga tertekan 0,9 persen. Beberapa saham berkapitalisasi besar turut menjadi beban berat bagi indeks termasuk PT Bank Central Asia Tbk BBCA PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk BBRI PT Bank Mandiri Persero Tbk BMRI PT Amman Mineral Internasional Tbk AMMN dan PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk BBNI.
Meski demikian sejumlah saham berhasil menahan laju koreksi lebih dalam. Di antaranya adalah PT Bayan Resources Tbk BYAN yang sempat menjadi motor penggerak di pagi hari PT DCI Indonesia Tbk DCII PT Impack Pratama Industri Tbk IMPC PT Mitra Adiperkasa Tbk MAPI dan PT Merdeka Battery Materials Tbk MBMA.
Sebelumnya di pembukaan perdagangan pagi IHSG sempat melaju kencang di jalur hijau menguat 0,76 persen ke level 6.511,5. Kenaikan ini didukung kuat oleh lonjakan saham BYAN yang melesat 19,96 persen ke Rp 13.835 serta beberapa emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Haji Isam.
Kondisi pasar global juga turut memengaruhi pergerakan bursa domestik. Wall Street berhasil bangkit pada perdagangan Kamis di tengah penurunan harga minyak dan imbal hasil US Treasury. Indeks Dow Jones naik 0,61 persen S&P 500 menguat 1,14 persen dan Nasdaq Composite melonjak 1,69 persen. Ini terjadi seiring meredanya kekhawatiran atas yield Treasury meskipun pasar tetap waspada terhadap arah kebijakan The Fed dan dinamika geopolitik Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent terkoreksi sekitar 1 persen menjadi US$104,82 per barel sementara minyak WTI turun ke US$101,91 per barel. Namun harga komoditas energi ini masih bertahan di atas US$100 per barel mengingat risiko gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah masih sangat tinggi.
Investor terus mencermati eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran. Kedua belah pihak kembali saling serang pada Kamis memicu kekhawatiran terhadap jalur perdagangan energi vital di kawasan tersebut. Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz juga dilaporkan menurun drastis.
Di sisi lain data klaim tunjangan pengangguran AS yang turun menjadi 196.000 lebih rendah dari perkiraan 208.000 menunjukkan kekuatan pasar tenaga kerja AS. Kondisi ini menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve.
Dari Eropa Bank of England BoE memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di level 3,75 persen meskipun inflasi Inggris pada Agustus meningkat menjadi 3,1 persen. BoE juga menyoroti potensi kenaikan harga energi akibat ketegangan di Timur Tengah.
Sementara itu fokus pasar Asia tertuju pada Jepang. Rilis data inflasi Agustus dan pengumuman keputusan suku bunga oleh Bank of Japan BoJ yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 1,25 persen berpotensi memengaruhi pergerakan yen obligasi Jepang dan arus dana investor global.










Tinggalkan komentar