haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa (21/7/2026) dengan performa cemerlang, melanjutkan tren kenaikan yang kini telah berlangsung selama sembilan hari bursa berturut-turut. Ini menjadi sinyal positif bagi pasar modal Tanah Air.

Related Post
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG melonjak 0,67% atau setara 41,79 poin, mencapai level 6.273,57. Di awal sesi, total transaksi tercatat mencapai sekitar Rp215 miliar, dengan volume perdagangan mencapai 317,7 juta lembar saham yang berpindah tangan dalam 39.400 kali transaksi. Mayoritas saham, yakni 259, menunjukkan kenaikan, sementara 47 saham melemah, dan 659 lainnya stagnan.

IHSG memasuki hari perdagangan ini dengan bekal positif setelah delapan hari perdagangan sebelumnya juga ditutup menguat. Sejak tanggal 9 Juli, indeks ini sudah melesat sekitar 6,1% dan kini berhasil menembus batas psikologis 6.200. Kinerja impresif ini didukung oleh kembalinya investor asing, performa gemilang saham-saham perbankan raksasa, serta keputusan S&P Global Ratings yang mengukuhkan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan prospek stabil.
Fokus investor hari ini akan tertuju pada berbagai sentimen, baik dari ranah domestik maupun global. Di dalam negeri, sorotan utama adalah dimulainya Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berpotensi menetapkan kebijakan suku bunga, serta agenda pengesahan Rancangan Undang-Undang Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) di parlemen. Selain itu, pasar juga menanti perkembangan dari OJK yang sebelumnya menyatakan sektor perbankan nasional tetap kokoh, ditandai dengan pertumbuhan kredit 11,5% secara year-on-year.
Dari kancah internasional, bayang-bayang konflik di Timur Tengah masih menghantui, menyusul deklarasi blokade maritim oleh kelompok Houthi terhadap Arab Saudi. Eskalasi ini kembali memicu kekhawatiran akan pasokan energi dunia, mendorong kenaikan harga minyak. Sementara itu, Bank Sentral Tiongkok memilih mempertahankan suku bunga Loan Prime Rate (LPR). Di sisi lain, penguatan indeks dolar AS dan imbal hasil US Treasury berpotensi menghambat arus investasi ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.










Tinggalkan komentar