haluannews.id – Pasar modal Indonesia menunjukkan geliat positif pada perdagangan Senin 13 Juli. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG berhasil melonjak 192 persen menutup sesi di level 603784. Kenaikan signifikan ini terutama ditopang oleh performa gemilang saham-saham perbankan raksasa seperti BMRI yang melesat 417 persen dan BBRI yang terkerek 287 persen. Tak ketinggalan saham AMMN juga ikut memberi dorongan kuat dengan kenaikan 769 persen. Namun di tengah euforia tersebut beberapa saham seperti CTBN UNVR dan BOGA justru memberi tekanan pada indeks dengan penurunan masing-masing 654 persen 289 persen dan 585 persen.

Related Post
Meski IHSG perkasa investor asing masih terlihat menahan diri dengan membukukan jual bersih sebesar Rp41250 miliar di pasar reguler dan total Rp43766 miliar di seluruh pasar. Secara sektoral optimisme pasar terlihat dari sembilan dari sebelas sektor yang berakhir di zona hijau dengan sektor Industri Dasar memimpin penguatan 296 persen. Hanya sektor Kesehatan yang harus rela tergelincir 026 persen.

Berbeda dengan semangat di bursa domestik pasar saham Amerika Serikat justru menghadapi tekanan. Indeks Dow Jones tergelincir 026 persen S&P 500 terkoreksi 079 persen dan Nasdaq melemah 155 persen.
Sentimen positif bagi pasar Indonesia datang dari lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings. Mereka kembali menegaskan peringkat utang Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan prospek stabil. Kabar baik ini langsung disambut positif oleh pasar terlihat dari penguatan instrumen ETF EIDO sebesar 110 persen dan MSCI Indonesia yang naik 224 persen. S&P juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi riil Indonesia mencapai 510 persen pada 2026 dan rata-rata 490 persen untuk periode 2026 hingga 2029. Defisit fiskal bahkan diperkirakan kembali di bawah 3 persen terhadap PDB mulai 2027.
S&P menilai posisi Indonesia sangat kuat berkat rasio utang pemerintah dan utang luar negeri yang relatif rendah dibandingkan negara-negara dengan peringkat serupa. Potensi peningkatan penerimaan negara dan ekspor seiring membaiknya harga komoditas serta implementasi kebijakan pemerintah yang konsisten turut menjadi faktor pendukung. Kondisi ini diharapkan dapat menjaga biaya pendanaan perusahaan tetap terkendali sehingga berpotensi memberikan angin segar bagi sektor-sektor strategis seperti perbankan properti infrastruktur dan utilitas.
Dari ranah korporasi PT Archi Indonesia Tbk ARCI melaporkan kemajuan signifikan dalam program eksplorasi mereka. Sepanjang semester I 2026 perusahaan telah menginvestasikan USD560 juta untuk kegiatan pengeboran. Sebanyak 157 titik pengeboran dengan total kedalaman sekitar 45 kilometer telah dilakukan di area tambang emas Toka Tindung Sulawesi Utara melalui anak usahanya Meares Soputan Mining MSM dan Tambang Tondano Nusajaya TTN. Eksplorasi ini berfokus pada wilayah konsesi seluas 39817 hektare yang dipilih berdasarkan hasil eksplorasi sebelumnya. Pada kuartal I 2026 ARCI menemukan kadar emas hingga 1020 gram per ton pada interval 460 meter di kedalaman 34230 hingga 34690 meter. Temuan lain juga menunjukkan kadar 224 gram per ton. Memasuki kuartal II 2026 hasil pengeboran semakin menjanjikan dengan kadar emas tertinggi mencapai 2518 gram per ton pada interval 310 meter di kedalaman 28580 hingga 28890 meter serta kadar 425 gram per ton pada interval 23 meter di kedalaman 21300 hingga 23600 meter. Rangkaian hasil eksplorasi ini memperkuat potensi pengembangan sumber daya tambang Toka Tindung. Hingga saat ini ARCI memiliki cadangan emas sekitar 390 juta ons dengan kadar rata-rata 120 gram per ton terdiri atas 667 ribu ons cadangan terbukti dan sekitar 320 juta ons cadangan terkira.
Sementara itu PT RMK Energy Tbk RMKE bersiap melakukan aksi korporasi stock split dengan rasio 1 berbanding 5. Keputusan ini telah disetujui oleh Bursa Efek Indonesia melalui Surat No S-08075/BEI.PP1/07-2026 tertanggal 7 Juli 2026. Setelah stock split efektif jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh akan melonjak menjadi 2188 miliar saham dari sebelumnya 438 miliar saham. Nilai nominal saham juga akan berubah menjadi Rp20 per saham dari semula Rp100 per saham. Perseroan juga menyesuaikan modal dasar menjadi 70 miliar saham dari 14 miliar saham. Rencana stock split ini telah mendapat restu pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa RUPSLB pada 26 Juni 2026. Berdasarkan jadwal yang ditetapkan perdagangan saham dengan nilai nominal lama di pasar reguler dan negosiasi akan berlangsung hingga 16 Juli 2026. Sementara itu distribusi saham hasil stock split dijadwalkan pada 21 Juli 2026 yang sekaligus menandai awal perdagangan saham dengan nilai nominal baru di pasar tunai.
Disclaimer Ingat bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.










Tinggalkan komentar