IHSG Menggila! Gencatan Senjata & Rating RI Stabil Jadi Amunisi?

IHSG Menggila! Gencatan Senjata & Rating RI Stabil Jadi Amunisi?

Haluannews Ekonomi – Pasar modal Indonesia memulai perdagangan terakhir pekan ini dengan optimisme terbatas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 0,32% atau setara 24,43 poin, mencapai level 7.645,81 pada Jumat (17/4/2026) pagi. Kenaikan ini ditopang oleh dominasi saham-saham yang bergerak positif, di mana 284 saham menguat, sementara 55 melemah, dan 620 lainnya stagnan. Aktivitas transaksi tercatat mencapai Rp 176,1 miliar, melibatkan 360,9 juta saham dalam 42.490 kali transaksi, mendorong kapitalisasi pasar naik menjadi Rp 13.625 triliun.

COLLABMEDIANET

Penguatan IHSG pagi ini bukan tanpa alasan, melainkan dipengaruhi oleh konvergensi sentimen fundamental dan geopolitik yang krusial. Dinamika eksternal, mulai dari ketegangan di Timur Tengah, anomali di pasar derivatif Amerika Serikat, hingga rilis data makroekonomi Tiongkok, menjadi faktor penggerak utama yang dicermati pelaku pasar.

IHSG Menggila! Gencatan Senjata & Rating RI Stabil Jadi Amunisi?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kabar positif datang dari arena geopolitik global, khususnya Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata sementara selama 10 hari antara Israel dan Lebanon. Kesepakatan ini dicapai setelah pertemuan pejabat kedua negara di Washington, dan akan mulai berlaku pukul 17.00 waktu AS Timur (ET). Trump bahkan berencana mengundang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun ke Gedung Putih untuk "pembicaraan bermakna pertama sejak 1983," menandakan potensi perdamaian yang lebih luas. Kementerian Luar Negeri AS menegaskan komitmen kedua negara untuk menciptakan kondisi damai jangka panjang, pengakuan kedaulatan, integritas wilayah, dan keamanan perbatasan, sembari tetap menghormati hak Israel untuk membela diri.

Di sisi lain, Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak global, mulai menunjukkan pergerakan kapal tanker meskipun volume pelayaran masih jauh di bawah kapasitas normal. Data maritim mencatat beberapa Very Large Crude Carrier (VLCC) seperti RHN (berkapasitas 2 juta barel minyak mentah senilai US$160 juta) dan Alicia, telah melintasi kawasan tersebut. Namun, volume pelayaran secara keseluruhan masih anjlok hingga 90% dibandingkan kondisi pra-konflik. Menariknya, Presiden Trump mengklaim telah membuka Selat Hormuz secara permanen, hasil kesepakatan dengan Tiongkok yang menyetujui penghentian pasokan senjata ke Iran.

Di tengah ketidakpastian global, sentimen positif yang kuat mengalir dari dalam negeri. Lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) memutuskan untuk mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan prospek stabil. Keputusan ini menjadi angin segar bagi stabilitas ekonomi makro Indonesia.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dalam keterangannya, menjelaskan bahwa S&P mengapresiasi komitmen pemerintah Indonesia dalam menjaga disiplin fiskal. Secara khusus, upaya pemerintah untuk menahan defisit anggaran di bawah batas 3% terhadap PDB menjadi sorotan positif, dengan realisasi defisit fiskal yang lebih rendah pada level 2,8%. Purbaya menegaskan konsistensi kebijakan ini, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo untuk menjaga defisit di bawah 3%.

Faktor lain yang menambah keyakinan S&P adalah perbaikan kinerja pengumpulan pendapatan negara. Penerimaan pajak yang tumbuh signifikan hingga 30% pada dua bulan pertama tahun ini, serta 20% pada periode Januari-Maret dibandingkan tahun sebelumnya, dipandang sebagai hasil positif dari restrukturisasi organisasi perpajakan dan kepabeanan. Langkah ini menunjukkan efektivitas reformasi birokrasi dalam meningkatkan kapasitas fiskal negara.

Meskipun demikian, Purbaya mengakui adanya perhatian khusus dari S&P terkait rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan yang berada di atas 15%. Indikator ini akan terus dimonitor, namun Purbaya meyakinkan bahwa rasio tersebut masih dalam kendali dan belum mencapai level yang membahayakan, terutama dengan proyeksi perbaikan pengumpulan pajak dan cukai ke depan. "Ketika kita beritahu bahwa dua bulan tahun ini pertumbuhan pajak 30 persen dan di bulan Januari-Maret dibanding tahun lalu tumbuh 20 persen mereka sepertinya cukup puas," pungkas Purbaya, seperti dikutip dari Haluannews.id.

Kombinasi sentimen eksternal yang mereda dan fundamental domestik yang solid memberikan landasan kuat bagi pergerakan IHSG. Stabilitas rating kredit menjadi bukti ketahanan ekonomi Indonesia di tengah gejolak global.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar