IHSG Guncang, Kadin: Bukan Krisis, Tapi Peluang Reformasi Total!

IHSG Guncang, Kadin: Bukan Krisis, Tapi Peluang Reformasi Total!

Haluannews Ekonomi – Pasar modal Indonesia sempat dilanda turbulensi signifikan pada akhir Januari 2026, ditandai dengan serangkaian penghentian sementara perdagangan (trading halt) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menegaskan bahwa fenomena ini tidak serta-merta mengindikasikan krisis ekonomi yang fundamental.

COLLABMEDIANET

"Saya melihat koreksi ini, meskipun memicu beberapa kali trading halt, tidak lantas berarti ekonomi kita bermasalah secara fundamental. Itu poin terpenting yang perlu kita garisbawahi," ujar Anindya saat ditemui di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, pada Senin (2/2/2026), seperti dilansir Haluannews.id.

IHSG Guncang, Kadin: Bukan Krisis, Tapi Peluang Reformasi Total!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Gejolak di bursa saham sepanjang pekan terakhir Januari 2026, tepatnya periode 26-30 Januari, memang memicu aksi jual masif yang mengikis kepercayaan investor, baik domestik maupun global. Tekanan awal dipicu oleh sentimen eksternal terkait indeksasi global, namun dengan cepat berkembang menjadi defisit keyakinan yang lebih luas, mendorong otoritas keuangan mengambil langkah-langkah darurat di pasar modal.

Meski demikian, Anindya memandang fluktuasi ini sebagai bagian dari fase transisi, terutama di tengah upaya serius pemerintah dan regulator untuk membenahi bursa. Ia justru melihat langkah reformasi ini sebagai sinyal positif bagi investor internasional. "Upaya reformasi regulator dan bursa adalah hal yang sangat baik. Saya yakin dunia akan melihat keseriusan kita. Mungkin di masa transisi akan ada sedikit koreksi, dan itu wajar," tambahnya.

Bagi dunia usaha, Anindya menekankan pentingnya menjaga fungsi pasar modal sebagai kanal vital untuk mobilisasi modal. "Yang terpenting dari sudut pandang dunia usaha adalah memastikan pasar modal tetap menjadi tempat untuk mencari pembiayaan, merealisasikan ekspansi. Karena pasar modal tidak hanya tentang ekuitas, tetapi juga instrumen utang," jelasnya.

Senada dengan Kadin, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) juga melihat turbulensi pasar modal saat ini sebagai momentum emas untuk melakukan transformasi fundamental. Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menyoroti bahwa krisis kepercayaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) perlu ditelaah secara lebih struktural.

"Ini bukan sekadar persoalan satu atau dua saham, atau semata urusan bursa dan indeks global, melainkan menyangkut keyakinan terhadap sistem pasar modal nasional dan kredibilitas negara secara keseluruhan," ungkap Pandu dalam keterangan resminya, Senin (2/2/2026).

Pandu menegaskan, agenda reformasi pasar modal merupakan kebutuhan seluruh ekosistem, bukan hanya kepentingan satu institusi. Reformasi ini krusial agar pasar modal Indonesia menjadi lebih dalam, likuid, dan kredibel di mata investor.

Dalam kerangka reformasi, Pandu menguraikan beberapa langkah struktural yang mendesak:

  1. Peningkatan Transparansi: Khususnya terkait keterbukaan kepemilikan manfaat akhir (ultimate beneficial ownership) dan kualitas data kepemilikan saham.
  2. Penguatan Tata Kelola dan Penegakan Hukum: Termasuk demutualisasi bursa sebagai bagian dari mitigasi benturan kepentingan dan penguatan institusional.
  3. Pendalaman Pasar Terintegrasi: Melalui sinergi lintas pemangku kepentingan, mencakup sisi permintaan (demand), penawaran (supply), hingga infrastruktur pasar.
  4. Penguatan Likuiditas: Termasuk penyesuaian kebijakan saham beredar bebas (free float) agar selaras dengan praktik global. Kenaikan free float dari 7,5% menjadi 15% harus dilakukan melalui kebijakan yang membangun kepercayaan investor sehingga valuasi mencerminkan fundamental perusahaan.

"Reformasi ini pada akhirnya bertujuan untuk membangun kepercayaan jangka panjang, memperluas basis investor, serta memastikan pasar modal Indonesia mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan," tutup Pandu.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar