IHSG Berdarah! Investor Panik? Sesi Ini Kembali Terkoreksi

IHSG Berdarah! Investor Panik? Sesi Ini Kembali Terkoreksi

Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali harus mengakui keunggulan pasar beruang pada perdagangan hari ini, Rabu (1/10/2025), setelah ditutup melemah 0,21% atau setara 17,24 poin, dan parkir di level 8.043,82. Koreksi ini memperpanjang tren negatif yang terjadi sejak sesi sebelumnya, dimana IHSG juga terpantau mengalami penurunan.

COLLABMEDIANET

Sentimen negatif nampaknya masih mendominasi pergerakan pasar, tercermin dari jumlah saham yang mengalami penurunan mencapai 400 emiten, berbanding terbalik dengan 300 saham yang berhasil mencatatkan kenaikan. Sementara itu, sebanyak 257 saham terpantau stagnan. Total nilai transaksi pada perdagangan hari ini mencapai Rp 23,78 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 57,9 miliar saham dalam 2,8 juta transaksi.

IHSG Berdarah! Investor Panik? Sesi Ini Kembali Terkoreksi
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sektor utilitas dan finansial menjadi pemberat utama bagi kinerja IHSG, masing-masing mengalami penurunan sebesar 1,74% dan 1,42%. Tekanan ini berasal dari saham-saham perbankan raksasa, dimana BBRI tercatat turun 2,31% dan membebani IHSG sebesar 14,9 indeks poin, diikuti oleh BBCA dengan kontribusi negatif 8,96 indeks poin, dan BBNI sebesar 1,79 indeks poin.

Selain sektor finansial, saham-saham energi dan pertambangan juga turut menyeret IHSG ke zona merah. AMMN mengalami penurunan 3,81% dengan kontribusi negatif 8,66 indeks poin, BREN turun dan membebani 8,57 indeks poin, serta DSSA dengan kontribusi negatif 2,7 indeks poin.

Meskipun demikian, terdapat beberapa saham yang berhasil mencatatkan kinerja positif dan menjadi penopang bagi IHSG.

Sepanjang bulan September, IHSG sebenarnya berhasil mencatatkan penguatan sebesar 2,94%, dengan ditutup pada rentang 7.628,61-8.126,56. Reli ini didorong oleh sejumlah faktor positif, termasuk pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia menjadi 4,75% dan kebijakan-kebijakan baru dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, seperti pemberian likuiditas kepada bank Himbara dan tidak adanya kenaikan tarif cukai tembakau (CHT) untuk tahun 2026.

Selain itu, tingginya transaksi harian yang mencapai di atas Rp30 triliun hingga Rp69 triliun sepanjang Agustus hingga September 2025 juga turut menjadi katalis positif bagi pergerakan IHSG.

Pada bulan Oktober ini, pasar berharap IHSG dapat kembali melanjutkan tren positifnya, didorong oleh sentimen-sentimen positif yang diperkirakan akan mulai berjalan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat menembus level di atas 5,5% pada kuartal IV-2025. Pemerintah saat ini tengah fokus melakukan ekspansi fiskal dengan mengoptimalkan dana menganggur, memberikan stimulus ekonomi, serta dukungan dari Bank Indonesia melalui kebijakan moneter yang longgar.

Purbaya menjelaskan bahwa berbagai kebijakan tersebut baru akan mulai terasa dampaknya pada akhir tahun, mengingat pada kuartal III-2025 masih terdapat sejumlah permasalahan yang menekan ekonomi, mulai dari demonstrasi hingga tekanan kurs.

Sejak dilantik pada 8 September 2025, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah berkomitmen untuk terus mendorong belanja negara demi memacu pertumbuhan ekonomi. Salah satu langkah yang diambil adalah mengalokasikan dana menganggur pemerintah senilai Rp 200 triliun dari Bank Indonesia ke lima bank negara, dengan tujuan meningkatkan peredaran uang primer atau M0.

Pemerintah juga telah mengeluarkan kebijakan stimulus ekonomi lanjutan yang dikenal dengan paket ekonomi 8+4+5, yang akan digulirkan hingga tahun 2026 dengan total anggaran mencapai Rp 16,23 triliun.

Bank Indonesia juga turut mengambil langkah-langkah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, salah satunya melalui kebijakan moneter longgar dengan memangkas suku bunga acuan BI Rate menjadi 4,75% pada 17 September 2025.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penurunan suku bunga, pelonggaran likuiditas, peningkatan insentif makroprudensial, serta percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar