Haluannews Ekonomi – Mata uang Garuda menunjukkan performa impresif di awal pekan ini, menguat tipis terhadap dominasi dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Senin (25/5/2026), nilai tukar rupiah dibuka perkasa, menembus level Rp17.680 per dolar AS, sebuah apresiasi sebesar 0,06%. Kondisi ini menandai pembalikan tren setelah penutupan pekan lalu yang melemah di Rp17.690 per dolar AS.

Related Post
Penguatan rupiah tak lepas dari melemahnya indeks dolar AS (DXY) di pasar global. Indeks yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap mata uang mayor lainnya ini terpantau anjlok 0,26% ke level 98,981 pada pukul 09.00 WIB. Tekanan terhadap dolar AS muncul di tengah optimisme pasar terkait potensi kemajuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun pemerintahan Presiden Donald Trump masih berhati-hati dalam meredam ekspektasi kesepakatan cepat, sentimen ini cukup kuat untuk menekan harga minyak di bawah US$100 per barel dan secara tidak langsung membebani dolar. Pelemahan greenback ini secara otomatis membuka ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.

Dari ranah domestik, komitmen pemerintah untuk memperkuat rupiah semakin nyata. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara lugas menyatakan target ambisius untuk membawa nilai tukar rupiah menuju Rp15.000 per dolar AS, jauh di bawah posisi saat ini yang masih di atas Rp17.000. Purbaya mengindikasikan akan ada langkah-langkah strategis baru yang diimplementasikan pada pekan ini guna mengakselerasi penguatan mata uang Garuda.
Salah satu instrumen kunci yang disebut-sebut adalah penerapan aturan baru Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang akan efektif mulai 1 Juni 2026. Regulasi ini diharapkan mampu menahan lebih banyak devisa dari komoditas ekspor vital seperti batu bara dan CPO agar tetap berputar di dalam negeri, memperkuat cadangan devisa dan stabilitas rupiah. Selain itu, pemerintah juga aktif melakukan stabilisasi pasar melalui intervensi di pasar obligasi. Langkah ini krusial untuk menjaga imbal hasil (yield) obligasi tetap stabil di tengah potensi arus keluar modal asing. Sepanjang pekan lalu, Haluannews.id mencatat pemerintah telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sekitar Rp2,2 triliun, sebuah upaya konkret untuk menopang pasar keuangan domestik.
Dengan kombinasi sentimen eksternal yang mendukung dan kebijakan domestik yang proaktif, prospek penguatan rupiah di masa mendatang terlihat menjanjikan. Para pelaku pasar kini menantikan implementasi kebijakan baru yang diharapkan dapat membawa rupiah lebih dekat ke target fundamentalnya.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar