Data dari Haluannews.id menunjukkan bahwa tekanan jual asing di pasar reguler mencapai Rp130,88 miliar. Sektor industri dasar menjadi pemicu utama koreksi IHSG, anjlok 4,67%. Saham-saham energi dan petrokimia seperti Barito Pacific (BRPT) merosot 10,18%, Chandra Asri Pacific (TPIA) ambles 14,74%, dan Barito Renewables Energy (BREN) terkoreksi 7,62%, menjadi kontributor terbesar pelemahan ini. Secara keseluruhan, sembilan dari sebelas sektor tercatat berada di zona merah.

Related Post
Namun, di tengah sentimen negatif, beberapa saham berhasil mencatat kinerja cemerlang. Saham Mora Telematika Indonesia (MORA) memimpin penguatan dengan melonjak 19,75%, diikuti oleh Sinarmas Multiartha (SMMA) yang naik 8,49%, serta Bank Mandiri (BMRI) yang menguat 2,42%. Sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang menunjukkan penguatan signifikan, naik 1,21%. Total beli bersih investor asing di seluruh pasar tercatat sebesar Rp249,17 miliar.

Sentimen Global dan Domestik Pengaruhi Pergerakan Pasar
Di sisi global, pasar saham Amerika Serikat justru menunjukkan tren positif. Indeks utama Wall Street ditutup menguat, dengan Dow Jones naik 1,31% ke 50.009, S&P 500 menguat 1,08% ke 7.432, dan Nasdaq bertambah 1,55% menjadi 26.270.
Pelaku pasar kini menantikan rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed yang berpotensi memberikan petunjuk arah kebijakan moneter AS. Dari dalam negeri, data neraca berjalan Indonesia kuartal I-2026 diperkirakan mencatat defisit yang lebih lebar, mencapai US$4,50 miliar, dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar minus US$2,54 miliar.
Sentimen domestik lainnya datang dari rencana pemerintah untuk melakukan sentralisasi ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan batu bara melalui pembentukan BUMN ekspor. Kebijakan ini dinilai dapat memberikan tekanan tambahan terhadap sektor komoditas dan pergerakan IHSG ke depan.
Kinerja Korporasi dan Rekomendasi Saham Pilihan
Di tengah dinamika pasar, beberapa emiten merilis kinerja keuangan yang menarik perhatian. PT Indika Energy Tbk (INDY) membukukan kenaikan laba bersih 33,88% secara tahunan menjadi US$13,59 juta pada kuartal I-2026, ditopang oleh peningkatan pendapatan investasi. Pendapatan perseroan juga naik tipis 0,73% menjadi US$493,21 juta. Penurunan beban pokok akibat kenaikan persediaan batu bara turut menekan biaya pokok penjualan, mengindikasikan volume produksi yang lebih tinggi dari penjualan.
Dari sektor perkebunan, PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) menargetkan volume pengolahan tandan buah segar (TBS) di pabrik internal mencapai 700 ribu ton tahun ini, naik signifikan dari 500 ribu ton tahun sebelumnya. Perseroan juga menyiapkan belanja modal sekitar Rp100 miliar untuk program peremajaan dan ekspansi lahan. CSRA membidik pertumbuhan pendapatan 5,87% menjadi Rp2 triliun pada tahun ini.
Sementara itu, PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) berencana melakukan pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai maksimal Rp250 miliar menggunakan kas internal. Aksi korporasi ini akan dilaksanakan melalui Ina Sekuritas Indonesia dalam periode 20 Mei hingga 19 Agustus 2026, yang berpotensi mengurangi kas perseroan namun juga dapat menopang harga saham.
Melihat kondisi pasar yang bergejolak, Mega Capital Sekuritas merekomendasikan beberapa saham yang layak dicermati hari ini, antara lain PTBA, ASII, dan MYOR. Namun, investor tetap disarankan untuk melakukan analisis mendalam sesuai profil risiko masing-masing.
Disclaimer: Segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi. Selamat berinvestasi secara bijak.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar