Bank Maspion: Kredit Agresif, Laba Anjlok 91%! Ini Biang Keroknya

Bank Maspion: Kredit Agresif, Laba Anjlok 91%! Ini Biang Keroknya

Haluannews Ekonomi – Kinerja PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS) pada kuartal pertama tahun 2026 menyajikan paradoks yang menarik perhatian para analis pasar. Di satu sisi, bank ini berhasil mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit yang sangat agresif, melampaui ekspektasi. Namun, di sisi lain, laba bersih perseroan justru anjlok drastis hingga 91,5% secara tahunan (yoy), hanya mencapai Rp 2,6 miliar. Kontras tajam antara ekspansi kredit dan penurunan profitabilitas ini menjadi sorotan utama Haluannews.id.

COLLABMEDIANET

Berdasarkan laporan keuangan yang baru dirilis, BMAS berhasil menggenjot penyaluran kreditnya dari Rp 14,34 triliun pada kuartal I-2025 menjadi Rp 18,21 triliun pada periode yang sama tahun ini, atau melonjak 27% yoy. Angka ini menunjukkan ambisi bank dalam memperluas portofolio pinjamannya. Namun, pertumbuhan kredit yang masif ini tidak serta-merta berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan inti bank. Pendapatan bunga bersih (NII) justru turun dari Rp 176,75 miliar menjadi Rp 164,37 miliar.

Bank Maspion: Kredit Agresif, Laba Anjlok 91%! Ini Biang Keroknya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Penurunan laba bersih ini utamanya disebabkan oleh menyempitnya margin bunga bersih (NIM) bank. NIM BMAS terkikis dari 3,54% menjadi 3,17%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa selisih keuntungan antara bunga yang diterima dari pinjaman dan bunga yang dibayarkan atas simpanan semakin tipis, menekan pendapatan inti bank.

Selain itu, profitabilitas BMAS juga tergerus oleh lonjakan signifikan pada beban penyisihan kerugian penurunan nilai (CKPN). Pos ini membengkak 216,15% yoy menjadi Rp 53,6 miliar. Kenaikan CKPN yang drastis ini merupakan cerminan dari memburuknya kualitas aset bank, yang terlihat dari peningkatan rasio kredit bermasalah (NPL). NPL gross BMAS naik dari 1,16% menjadi 2,45%, sementara NPL net melonjak dari 0,79% menjadi 1,52%. Hal ini mengindikasikan bahwa risiko kredit yang diambil bank seiring dengan pertumbuhan agresifnya mulai menunjukkan dampak negatif.

Meskipun demikian, ada secercah harapan dari pos pendapatan operasional lainnya. BMAS mencatat kenaikan pendapatan operasional lainnya sebesar 286% yoy, mencapai Rp 47,83 miliar dari sebelumnya Rp 12,39 miliar. Peningkatan ini sebagian besar didorong oleh pendapatan lain-lain serta keuntungan dari penjualan surat berharga, yang sedikit menopang kinerja bottom line.

Dari sisi struktur pendanaan, bank ini juga mengalami perubahan signifikan. Total dana pihak ketiga (DPK) BMAS menyusut 24,49% yoy menjadi Rp 11,47 triliun. Penurunan ini terjadi di semua lini, dengan deposito turun 20,72% yoy, tabungan -10,79% yoy, dan giro -42,19% yoy. Akibatnya, dana murah (CASA) juga terkoreksi 33,69% yoy, membuat rasio CASA bank merosot dari 29,1% menjadi 25,5%. Pergeseran ini bisa berarti bank harus bergantung pada sumber pendanaan yang lebih mahal, meskipun beban bunga bank secara total sebenarnya telah menunjukkan perbaikan, turun 24,69% yoy menjadi Rp 162,78 miliar. Namun, penurunan pendapatan bunga yang lebih besar, yakni 16,74% yoy, membuat pendapatan inti bank tetap tertekan.

Kombinasi dari NIM yang menyempit, kualitas aset yang memburuk, dan perubahan struktur pendanaan menjadi faktor utama di balik anjloknya laba bersih Bank Maspion di awal tahun 2026 ini, meskipun kredit tumbuh agresif. Tantangan bagi manajemen BMAS ke depan adalah menyeimbangkan antara pertumbuhan kredit yang ambisius dengan manajemen risiko dan efisiensi biaya dana untuk mengembalikan profitabilitas ke jalur yang lebih sehat.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar