Guncangan Hormuz Bikin Rupiah Terkapar: Tembus Rp20.200 per Euro!

Guncangan Hormuz Bikin Rupiah Terkapar: Tembus Rp20.200 per Euro!

Haluannews Ekonomi – Pasar keuangan domestik pada penutupan perdagangan Jumat (17/04/2026) menunjukkan gambaran yang kontras. Di balik penguatan tipis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), mata uang Rupiah justru tertekan signifikan, terutama dipicu oleh sentimen global yang memanas, dengan anjloknya transaksi di Selat Hormuz hingga 90%.

COLLABMEDIANET

IHSG berhasil menutup sesi perdagangan akhir pekan di zona hijau, menguat tipis 0,17% ke level 7.634. Kinerja ini menunjukkan ketahanan pasar saham domestik di tengah tekanan eksternal, meskipun volume transaksi mungkin mencerminkan kehati-hatian investor yang cenderung menahan diri di tengah ketidakpastian global. Beberapa sektor mungkin menjadi penopang utama penguatan ini, mengimbangi tekanan jual di sektor lain.

Guncangan Hormuz Bikin Rupiah Terkapar: Tembus Rp20.200 per Euro!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, ketahanan IHSG tidak mampu menopang laju Rupiah. Mata uang Garuda terpantau melemah terhadap Dolar Amerika Serikat, ditutup pada level Rp 17.180 per Dolar AS. Lebih mengkhawatirkan lagi, Rupiah juga menembus level psikologis penting terhadap Euro, mencapai Rp 20.262 per Euro, jauh melampaui angka Rp 20.200 yang sempat disorot sebagai ambang batas krusial. Pelemahan ini mengindikasikan tekanan jual yang kuat terhadap Rupiah dari berbagai sisi.

Pemicu utama pelemahan Rupiah dan kegelisahan pasar global tak lain adalah situasi di Selat Hormuz. Laporan terbaru dari Haluannews.id mengindikasikan bahwa volume transaksi di jalur maritim vital tersebut anjlok drastis hingga 90%. Selat Hormuz merupakan choke point strategis yang menghubungkan produsen minyak utama di Timur Tengah dengan pasar global. Penurunan aktivitas sebesar ini mengisyaratkan adanya gangguan serius, baik akibat eskalasi geopolitik maupun kekhawatiran keamanan yang mendalam di kawasan tersebut.

Dampak langsungnya adalah lonjakan harga minyak mentah global, yang berpotensi memicu inflasi di banyak negara, termasuk Indonesia, karena biaya energi dan logistik akan meningkat. Selain itu, biaya pengiriman dan rantai pasok global juga akan terpengaruh, berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia. Dalam kondisi ketidakpastian seperti ini, investor cenderung mencari aset safe haven seperti Dolar AS, yang semakin menekan mata uang negara berkembang seperti Rupiah.

Menanggapi dinamika pasar yang kompleks ini, pengamat ekonomi Haluannews.id, Maria Katarina dan Serliana Salsabila, dalam program Closing Bell, Haluannews.id, Jumat (17/04/2026), menyoroti pentingnya kewaspadaan pelaku pasar.

"Fluktuasi pasar saat ini adalah cerminan dari ketidakpastian global yang meningkat. Investor perlu mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta dampaknya terhadap harga komoditas dan stabilitas rantai pasok," ujar Maria Katarina.

Serliana Salsabila menambahkan, "Pemerintah dan bank sentral perlu menyiapkan langkah mitigasi yang komprehensif untuk meredam dampak inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah tekanan eksternal yang masif ini. Kebijakan moneter dan fiskal yang pruden akan sangat krusial."

Dengan prospek ketidakpastian yang masih membayangi, pasar keuangan global dan domestik diperkirakan akan tetap volatil. Pelaku pasar diharapkan untuk terus memantau perkembangan terkini dan menyesuaikan strategi investasi mereka dengan cermat.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar