IHSG Merah Pekat Saham Ini Jadi Penyelamat

IHSG Merah Pekat Saham Ini Jadi Penyelamat

haluannews.id – Pergerakan pasar saham domestik ditutup dengan catatan kurang memuaskan pada perdagangan Jumat (5/6). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok tajam, anjlok 4,20% dan mengakhiri sesi di level 5.594,76. Penurunan signifikan ini turut diwarnai oleh aksi jual masif dari investor asing yang mencatatkan net sell sebesar Rp3,72 triliun di pasar reguler, dan total Rp3,73 triliun di seluruh pasar. Hampir semua sektor mengalami koreksi, dengan sektor transportasi mencatat pelemahan paling dalam, yakni 5,97%.

COLLABMEDIANET

Di tengah tekanan jual yang melanda, beberapa saham emiten justru berhasil menjadi penopang utama. Saham PT Surya Citra Media Tbk (SMMA), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Emas Antam Indonesia Tbk (EMAS) tampil menahan laju kejatuhan indeks. Sebaliknya, saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) justru menjadi beban terberat yang menyeret IHSG ke zona merah.

IHSG Merah Pekat Saham Ini Jadi Penyelamat
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sentimen negatif tak hanya terasa di bursa lokal, namun juga merambat ke pasar global. Indeks Dow Jones ditutup melemah 1,35% ke 50.866, S&P 500 terkoreksi 2,64% menjadi 7.383, dan Nasdaq terpangkas 4,18% ke posisi 25.709. Memasuki pekan baru, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan dibayangi oleh sentimen yang terbatas. Pelaku pasar akan mencermati data cadangan devisa Indonesia. Sebagai informasi, cadangan devisa pada April 2026 tercatat menurun menjadi US$146,20 miliar dari US$148,15 miliar pada Maret. Jika tren penurunan ini berlanjut, stabilitas nilai tukar rupiah berpotensi terpengaruh. Selain itu, instrumen ETF EIDO dan indeks MSCI Indonesia juga masih menunjukkan koreksi masing-masing sebesar 6,34% dan 4,11%.

Namun, di balik gejolak pasar, ada kabar positif dari beberapa emiten. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) berhasil mengamankan dukungan pendanaan internasional senilai US$477,87 juta. Prestasi ini diraih setelah tiga proyek panas bumi perseroan masuk dalam daftar Green Book 2026. Ketiga proyek strategis tersebut meliputi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 (55 MW), PLTP Lumut Balai Unit 4 (55 MW), serta PLTP Lahendong Unit 7-8 (50 MW). PLTP Lumut Balai Unit 3 dan Lahendong Unit 7-8 ditargetkan beroperasi komersial pada 2030, sementara Lumut Balai Unit 4 menyusul pada 2032. Secara teknikal, saham PGEO masih menunjukkan tren penurunan, dengan area pemantauan berikutnya di kisaran Rp780.

Sementara itu, raksasa telekomunikasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) berencana melakukan aksi korporasi pembelian kembali saham (buyback) dengan alokasi maksimal Rp4 triliun. Langkah ini akan didanai dari kas internal perseroan yang pada kuartal I-2026 tercatat sebesar Rp37,55 triliun, meningkat dari Rp34,23 triliun pada akhir 2025. Jika seluruh alokasi buyback terealisasi, kas perseroan diperkirakan menjadi Rp33,55 triliun, dengan potensi penurunan total aset dan ekuitas masing-masing menjadi Rp282,28 triliun dan Rp145,06 triliun. Menariknya, aksi ini diproyeksikan dapat mendongkrak laba per saham (EPS) dari Rp179,80 menjadi Rp183,10, seiring berkurangnya jumlah saham yang beredar. Jumlah saham yang dibeli kembali dibatasi maksimal 10% dari modal ditempatkan dan disetor, dengan tetap menjaga porsi free float di atas ketentuan minimum 15%. Rencana ini akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 8 Juni 2026, dan jika disetujui, pelaksanaan buyback akan berlangsung dari 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027.

Dari sektor pertambangan, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) mengumumkan pembagian dividen tunai untuk tahun buku 2025 sebesar Rp105 per saham, atau setara dengan total Rp2,78 triliun. Dividen jumbo ini akan dibagikan kepada 26,46 miliar saham yang beredar, setelah mendapat restu dari Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 3 Juni 2026. Keputusan ini didukung oleh saldo laba perseroan yang mencapai US$175,83 juta pada 2025. Kinerja operasional PSAB juga menunjukkan pertumbuhan impresif, dengan penjualan melonjak 22,34% secara tahunan menjadi US$288,75 juta dan laba bersih meningkat signifikan menjadi US$35,45 juta dari US$9,42 juta pada tahun sebelumnya. Dengan harga penutupan saham Rp500 per saham pada 5 Juni, dividen yang dibagikan mencerminkan dividend yield yang fantastis, sekitar 21%. Jadwal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 11 Juni 2026, dengan pembayaran dividen dijadwalkan pada 30 Juni 2026.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar