Haluannews Ekonomi – Jakarta, 22 April 2026 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan Rabu (22/4/2026). Indeks utama bursa ini merosot 15,01 poin atau 0,20% dan menutup sesi pertama di level 7.544,36. Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual signifikan pada saham-saham berkapitalisasi besar, terutama dari grup konglomerat, di tengah bayang-bayang sentimen global dan domestik.

Related Post
Data Haluannews.id mencatat, sebanyak 402 saham menguat, 253 melemah, dan 163 stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp 9,25 triliun, melibatkan 26,58 miliar saham dalam 1,67 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar ikut tergerus menjadi Rp 13.387 triliun. Mayoritas sektor perdagangan berada di zona merah, dengan sektor infrastruktur, energi, dan properti mencatat koreksi terdalam. Sebaliknya, sektor industri, finansial, dan konsumer primer mampu membukukan kenaikan.

Dua emiten besar menjadi pemberat utama IHSG hari ini. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), bagian dari Grup Sinar Mas, anjlok 10,79% ke Rp 2.480 per saham, menyumbang pelemahan 26,46 indeks poin. Tak kalah parah, PT Barito Renewables Energi Tbk (BREN) milik Prajogo Pangestu, terkoreksi 7,53% ke Rp 5.525 per saham, membebani indeks sebesar 16,6 poin.
Pelemahan tajam kedua saham ini tak lepas dari sentimen negatif pasca pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI mengindikasikan kemungkinan dikeluarkannya saham BREN dan DSSA dari indeks MSCI Global Standard, memicu tekanan jual masif dari investor yang berupaya menyesuaikan portofolio mereka.
Dari dalam negeri, pelaku pasar menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan hari ini. Konsensus yang dihimpun Haluannews.id dari 14 lembaga/institusi menunjukkan BI diperkirakan akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% untuk ketujuh kalinya secara berturut-turut. Keputusan ini bertujuan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global dan menjaga pencapaian sasaran inflasi.
Sentimen MSCI menjadi sorotan utama. Dalam tinjauan indeks Mei 2026, MSCI memutuskan mempertahankan kebijakan sementara untuk sekuritas Indonesia. Kebijakan tersebut mencakup pembekuan peningkatan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak menambahkan saham baru ke indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI). Yang paling krusial, MSCI akan menghapus sekuritas yang teridentifikasi dalam kerangka High Shareholding Concentration (HSC) baru oleh otoritas Indonesia, seperti BREN dan DSSA. Penghapusan ini diproyeksikan memicu likuidasi dana pasif sekitar Rp 25,5 triliun, yang berpotensi menekan harga kedua saham lebih lanjut tanpa adanya pembeli yang memadai di pasar negosiasi.
Di kancah global, pasar mencermati perpanjangan gencatan senjata AS-Iran oleh Presiden Donald Trump. Langkah ini sementara meredakan kekhawatiran lonjakan harga energi dan gejolak pasar keuangan global, namun ketegangan di Timur Tengah, terutama di Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan minyak dunia, masih menjadi perhatian. Penasihat Ketua Parlemen Iran bahkan menilai keputusan Trump hanya siasat untuk membeli waktu sebelum serangan baru dilancarkan.
Selain itu, sidang konfirmasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Federal Reserve (The Fed) yang baru juga menjadi fokus. Warsh menegaskan independensi The Fed dari Gedung Putih dan tidak pernah menjanjikan pemangkasan suku bunga kepada Presiden Trump, meredakan spekulasi pasar mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan.
Pasar saham Asia-Pasifik mayoritas dibuka melemah pada perdagangan hari ini, Rabu (22/4/2026), karena meningkatnya kekhawatiran konflik Timur Tengah dapat berlarut-larut. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,41%, sementara Topix turun 0,67%. Kospi Korea Selatan naik tipis 0,16%, sementara S&P/ASX 200 Australia turun 0,59%. Di Wall Street, S&P 500 ditutup turun 0,63%, Nasdaq Composite turun 0,59%, dan Dow Jones Industrial Average juga berakhir di zona merah tadi malam.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar