Haluannews Ekonomi – Nilai tukar rupiah menutup perdagangan akhir pekan ini dengan performa yang kurang menggembirakan, tertekan di zona pelemahan terhadap mata uang Paman Sam. Berdasarkan data Refinitiv pada penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026), mata uang Garuda ini ditutup pada level Rp17.085 per dolar AS, menunjukkan depresiasi tipis sebesar 0,03%.

Related Post
Pergerakan ini cukup mengejutkan, mengingat pada sesi pembukaan pagi hari, rupiah sempat menunjukkan kekuatan dengan menguat 0,09% ke posisi Rp17.065 per dolar AS. Namun, momentum positif tersebut tak mampu dipertahankan, dan rupiah kembali tergelincir hingga akhir perdagangan. Pada waktu yang sama, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama lainnya, terpantau menguat 0,32% ke level 98,819 pada pukul 15.00 WIB, menegaskan dominasi greenback di pasar global.

Tekanan terhadap mata uang Garuda ini merupakan akumulasi dari sentimen eksternal dan domestik yang saling berinteraksi. Menurut pengamatan Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang sekaligus Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, faktor utama pelemahan ini berasal dari eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
"Prospek kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel yang rencananya akan ditandatangani di Pakistan menjadi katalis penting dalam dinamika pasar. Keberhasilan atau kegagalan negosiasi ini akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah dalam waktu dekat," ujar Ibrahim kepada Haluannews.id, Jumat (10/4/2026). Ia menambahkan bahwa jika kesepakatan gencatan senjata dua minggu tersebut berhasil diteken, ada potensi besar bagi rupiah untuk kembali menguat.
Dari ranah domestik, hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) periode Maret 2026 turut memberikan sentimen, meskipun dengan nuansa yang berbeda. Survei tersebut menunjukkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terkoreksi ke level 122,9, sedikit menurun dari posisi sebelumnya sebesar 125,2.
Kendati demikian, level IKK saat ini masih mengindikasikan optimisme konsumen, mengingat posisinya yang tetap di atas 100. Bank Indonesia dalam laporannya menegaskan bahwa keyakinan konsumen pada Maret 2026 masih solid, didorong oleh persepsi positif terhadap kondisi ekonomi terkini serta ekspektasi yang baik untuk enam bulan mendatang.
Lebih lanjut, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) juga turut menopang optimisme tersebut, masing-masing berada di level 115,4 dan 130,4. Ini mengindikasikan bahwa rumah tangga di Indonesia tetap menunjukkan kepercayaan terhadap prospek ekonomi nasional, meskipun bayang-bayang ketidakpastian masih menyelimuti pasar keuangan global.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar