Dolar AS Menguat Rupiah Tertekan Ada Apa

Dolar AS Menguat Rupiah Tertekan Ada Apa

haluannews.id – Rupiah terpaksa mengawali perdagangan hari ini dengan langkah gontai, melemah tipis di hadapan dolar Amerika Serikat. Setelah sempat menunjukkan performa impresif sehari sebelumnya, mata uang Garuda kini kembali diuji oleh gejolak pasar global.

COLLABMEDIANET

Melansir data terbaru, kurs rupiah pada pembukaan perdagangan Selasa 30 Juni 2026 terpantau terkoreksi 0,08 persen, bertengger di level Rp17.850 per dolar AS. Posisi ini berbalik arah dari penutupan Senin 29 Juni 2026, di mana rupiah sempat perkasa dengan penguatan 0,39 persen ke angka Rp17.835 per dolar AS.

Dolar AS Menguat Rupiah Tertekan Ada Apa
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) justru menunjukkan kekuatannya. Pada pukul 09.00 WIB, indeks yang menjadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia ini tercatat menguat 0,13 persen, mencapai level 101,242.

Pergerakan rupiah ke depan diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika eksternal, terutama arah kebijakan moneter bank sentral AS The Federal Reserve atau The Fed. Meskipun sebelumnya dolar AS sempat kehilangan daya tariknya sebagai aset aman menyusul meredanya ketegangan di Selat Hormuz antara Amerika Serikat dan Iran, sentimen positif itu tak bertahan lama. Laporan mengenai kelancaran kembali aktivitas pelayaran di jalur vital perdagangan energi dunia tersebut sempat mengurangi kekhawatiran pasar, namun fokus kini beralih ke faktor lain.

Investor kini menanti dengan cermat sinyal dari The Fed terkait potensi kenaikan suku bunga acuan. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat The Fed 28-29 Juli mendatang diperkirakan mencapai 31,50 persen. Sementara itu, peluang suku bunga tetap dipertahankan pada level saat ini masih lebih besar, yakni 68,50 persen.

Selain itu, rilis data tenaga kerja AS pekan ini, termasuk data ADP dan nonfarm payrolls, juga akan menjadi sorotan utama. Data-data tersebut akan menjadi indikator penting bagi pasar untuk memprediksi langkah kebijakan moneter The Fed ke depan, yang tentunya akan berdampak pada pergerakan dolar AS dan mata uang lainnya, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, upaya menjaga stabilitas ekonomi terus digencarkan. Pemerintah bersama DPR, Bank Indonesia, dan Dewan Ekonomi Nasional telah menggelar rapat koordinasi untuk mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi sembari meredam imbas ketidakpastian global.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung memastikan bahwa kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap prima. Defisit hingga Mei 2026 tercatat sebesar 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan diperkirakan akan tetap berada di bawah batas 3 persen hingga akhir tahun 2026. Kondisi fiskal yang kokoh ini menjadi sorotan utama pasar, terutama di tengah tekanan global terhadap nilai tukar dan kebutuhan untuk menjaga kepercayaan investor.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar