haluannews.id – Pasar modal Indonesia kembali diwarnai sentimen negatif pada Senin 27 Juli 2026. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG tak berdaya dan terperosok di zona merah hingga jeda perdagangan siang. Tekanan jual masif dari investor asing terutama pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar dan komoditas menjadi pemicu utama koreksi ini.

Related Post
Hingga pukul 1200 WIB indeks acuan tersebut tercatat anjlok 2249 poin atau setara 036 persen memarkir posisinya di level 617394. Sepanjang paruh pertama sesi perdagangan IHSG sempat menunjukkan geliat positif dengan menyentuh puncak 621942 namun tak mampu bertahan dan kembali kehilangan momentum.

Aktivitas perdagangan cukup ramai dengan total nilai transaksi mencapai Rp708 triliun. Sebanyak 1607 miliar lembar saham berpindah tangan dalam 114 juta kali transaksi. Dari ratusan emiten yang diperdagangkan hanya 311 saham yang berhasil menguat sementara 332 saham harus rela melemah dan 322 lainnya bergerak stagnan.
Data dari Stockbit Sekuritas menunjukkan bahwa pemodal asing membukukan penjualan bersih net foreign sell yang signifikan mencapai Rp29341 miliar di seluruh pasar. Total pembelian asing tercatat Rp217 triliun namun angka penjualan jauh lebih besar menyentuh Rp247 triliun.
Saham-saham raksasa yang menjadi sasaran pelepasan masif oleh investor asing meliputi Telkom Indonesia TLKM Bank Rakyat Indonesia BBRI Bank Mandiri BMRI Barito Renewables Energy BREN Bank Central Asia BBCA Astra International ASII Barito Pacific BRPT Perusahaan Gas Negara PGAS Bukit Asam PTBA dan Merdeka Copper Gold MDKA.
Meski demikian di tengah gelombang tekanan jual beberapa instrumen investasi justru menarik minat beli asing. Di antaranya adalah DCI Indonesia DCII Bayan Resources BYAN VKTR Teknologi Mobilitas VKTR Indah Kiat Pulp & Paper INKP Impack Pratama Industri IMPC Amman Mineral Internasional AMMN Adaro Energy Indonesia ADRO Charoen Pokphand Indonesia CPIN Bank Negara Indonesia BBNI dan Unilever Indonesia UNVR.
Secara individual saham DCI Indonesia DCII tampil sebagai penopang utama IHSG dengan sumbangan 533 poin. Disusul oleh Bayan Resources BYAN yang berkontribusi 230 poin VKTR 174 poin INKP 157 poin serta IMPC 136 poin. Sebaliknya tekanan terbesar terhadap pergerakan indeks datang dari Telkom Indonesia TLKM yang memangkas 521 poin. Barito Renewables Energy BREN juga turut menekan 349 poin Mora Telematika Indonesia MORA 311 poin Bank Mandiri BMRI 276 poin dan Bank Central Asia BBCA 249 poin.
Kinerja sektoral menunjukkan dominasi merah dengan hanya satu sektor yang mampu bertahan di zona hijau yaitu konsumer non-primer yang menguat tipis 039 persen. Sementara itu sektor utilitas mencatat pelemahan terdalam hingga 171 persen diikuti teknologi -079 persen kesehatan -078 persen properti -039 persen energi -022 persen finansial -022 persen bahan baku -020 persen industri -015 persen dan konsumer primer -009 persen.










Tinggalkan komentar