haluannews.id – Emiten telekomunikasi PT Mitra Telekomunikasi Nusantara Tbk (MKNT) bersiap meluncurkan serangkaian aksi korporasi masif yang diprediksi akan merombak total struktur keuangan dan peta kepemilikan saham perusahaan. Langkah strategis ini mencakup akuisisi entitas baru, penataan ulang kewajiban utang, hingga penguatan basis permodalan melalui skema Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD).

Related Post
Dalam prospektus yang diterbitkan, MKNT akan menerima kucuran dana segar senilai Rp200 miliar dari lima investor independen. Suripto, John Veter Firdaus, dan Antony Lesmana masing-masing berkomitmen menyuntikkan Rp50 miliar. Sementara itu, Daniel Tejakusuma dan Rossa Linna akan menginvestasikan masing-masing Rp25 miliar. Selain itu, PT Mantra Capital Persada (MCP) juga akan menginjeksi dana sebesar Rp1,5649 miliar yang dialokasikan untuk melunasi pembelian saham PT RUM.

Di sisi ekspansi, MKNT telah menuntaskan penandatanganan Akta Jual Beli Saham Nomor 31 dan Nomor 32 pada 29 Mei 2026. Transaksi ini melibatkan pembelian saham dari Headwell Investment Limited dan PT Mazon Bumi Mining, sebagai bagian integral dari strategi restrukturisasi dan pengembangan bisnis Perseroan.
Sebagai inti dari penataan ulang finansial, MKNT akan mengonversi sebagian besar kewajibannya kepada para kreditur menjadi saham baru melalui mekanisme PMTHMETD. Total saham Seri B yang akan diterbitkan mencapai angka fantastis, yaitu 1.024.490.000.000 lembar. Jumlah tersebut terbagi atas 822.925.100.000 saham untuk konversi utang kreditur, 1.564.900.000 saham sebagai kompensasi injeksi tunai dari MCP, serta 200.000.000.000 saham yang diterbitkan atas masuknya dana dari investor independen.
Seluruh transaksi jumbo ini telah didukung oleh laporan penilaian independen dari KJPP Sih Wiryadi dan Rekan tertanggal 16 Juli 2026. Penyusunan aksi korporasi ini juga mengacu pada laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2026 serta laporan keuangan tahunan 2025 dan 2024.
Secara proforma, gebrakan ini diperkirakan membawa dampak signifikan terhadap kondisi finansial Perseroan. Modal ditempatkan dan disetor diproyeksikan melonjak sekitar Rp1,024 triliun, sementara liabilitas akan menyusut sekitar Rp822,93 miliar melalui konversi utang menjadi ekuitas. Di sisi lain, aset Perseroan diperkirakan bertambah sekitar Rp201,56 miliar berkat masuknya dana segar dari investor.
Namun, perubahan paling mencolok akan terjadi pada struktur kepemilikan saham. Setelah seluruh saham baru diterbitkan, PT Headwell Bintang Energi Hijau (HBEH) diproyeksikan menjadi pemegang saham pengendali baru dengan kepemilikan sekitar 668 miliar saham atau 64,85% dari total saham Perseroan. Sementara itu, PT Mantra Capital Persada (MCP) akan menguasai sekitar 156,49 miliar saham atau 15,19%. Dengan demikian, HBEH dan MCP secara kolektif akan menggenggam sekitar 80,04% saham MKNT pasca-pelaksanaan PMTHMETD, menandai pergeseran kendali yang fundamental di tubuh Perseroan.
Manajemen MKNT menegaskan bahwa aksi korporasi ini bertujuan memperkokoh struktur permodalan, memperbaiki neraca keuangan melalui penurunan liabilitas, serta membuka ruang yang lebih luas bagi ekspansi usaha di masa depan. Kendati demikian, rencana penerbitan lebih dari satu triliun saham baru ini berpotensi menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat menimbulkan efek dilusi terhadap kepemilikan pemegang saham eksisting.
Perseroan akan meminta restu dari pemegang saham atas rencana PMTHMETD dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 24 Agustus 2026. Hingga keterbukaan informasi ini diterbitkan, Perseroan menyatakan tidak sedang menghadapi perkara material yang dapat memengaruhi kelangsungan usaha maupun pelaksanaan aksi korporasi tersebut.









Tinggalkan komentar