Haluannews Ekonomi – Nilai tukar rupiah menunjukkan performa yang mengesankan, bergerak semakin perkasa di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), bahkan di tengah gejolak pasar saham domestik yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penghentian perdagangan sementara (trading halt). Berdasarkan data terkini yang dihimpun oleh Haluannews.id, mata uang Garuda ini berhasil mencatatkan penguatan signifikan.

Related Post
Mengacu pada data Refinitiv hingga pukul 13.58 WIB, rupiah tercatat menguat 0,33% ke posisi Rp16.705 per dolar AS. Tren penguatan ini telah terlihat sejak pembukaan perdagangan pagi, di mana rupiah sempat menanjak 0,30% ke level Rp16.710 per dolar AS. Bahkan, dalam perjalanannya, rupiah sempat menyentuh level terkuatnya hari ini di Rp16.675 per dolar AS, menunjukkan daya tahannya yang luar biasa.

Yang menarik perhatian pelaku pasar adalah momentum penguatan rupiah yang terjadi justru saat IHSG harus dihentikan sementara selama 30 menit. Penghentian perdagangan ini dipicu oleh penurunan indeks yang melampaui 8% pada pukul 13.43 WIB, menandakan tekanan jual yang cukup masif di bursa saham domestik.
Kekuatan rupiah ini tidak lepas dari dukungan pelemahan dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, terpantau melemah 0,13% ke level 96,100 pada siang hari ini. Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari tekanan tajam pada sesi sebelumnya, ketika DXY ditutup anjlok 0,85% ke level 96,217, mencatatkan rekor terendah dalam empat tahun terakhir.
Koreksi DXY yang mendalam ini mengindikasikan adanya pergeseran preferensi investor. Mereka mulai melepas aset-aset berdenominasi dolar AS, dan berpotensi mengalihkan arus dananya ke aset-aset berisiko serta mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Fenomena ini memberikan angin segar bagi mata uang Garuda.
Pelemahan dolar AS semakin diperkuat oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump. Ia menyebut bahwa dirinya tidak terlalu khawatir dengan penurunan dolar belakangan ini dan menilai pelemahannya belum terlalu signifikan. Pernyataan ini memperkuat persepsi pasar bahwa pemerintah AS relatif nyaman dengan dolar yang lebih lemah, mengingat hal tersebut dapat meningkatkan daya saing ekspor produk-produk Amerika.
Selain itu, tekanan terhadap greenback juga diperbesar oleh ketidakpastian kebijakan di Washington. Beberapa isu seperti wacana Trump terkait Greenland yang kembali mencuat, serta kritik terhadap independensi The Federal Reserve, turut menjadi faktor. Spekulasi mengenai potensi koordinasi intervensi valuta asing antara AS dan Jepang untuk menopang yen juga menjadi pemberat tambahan bagi dolar AS di pasar global.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar