Ancaman Krisis Kerja Generasi Muda

Ancaman Krisis Kerja Generasi Muda

haluannews.id – Dunia tengah menatap awan mendung yang mengancam masa depan generasi muda. Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, memberikan peringatan keras mengenai potensi krisis lapangan kerja global yang diprediksi akan meledak dalam kurun waktu 10 hingga 15 tahun ke depan. Sebuah kesenjangan besar antara jumlah angkatan kerja baru dengan ketersediaan lapangan kerja diperkirakan akan mencapai angka yang sangat mengkhawatirkan.

COLLABMEDIANET

Dalam pidatonya pada pertemuan tahunan Bank Dunia, Banga memaparkan data yang cukup mencengangkan. Diperkirakan sebanyak 1,2 miliar anak muda akan memasuki pasar tenaga kerja global dalam satu dekade mendatang. Namun, ironisnya, dunia diproyeksikan hanya mampu menyediakan sekitar 400 juta lapangan pekerjaan baru. Hal ini menyisakan lubang besar atau defisit pekerjaan sebanyak 800 juta posisi yang harus segera diatasi agar krisis sosial dan ekonomi tidak terjadi.

Ancaman Krisis Kerja Generasi Muda
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Generasi inilah yang akan membentuk wajah abad mendatang. Pilihan-pilihan strategis yang kita ambil hari ini akan sangat menentukan bagaimana masa depan dunia terbentuk," tegas Banga sebagaimana dikutip dari haluannews.id.

Tantangan menciptakan lapangan kerja ini tidaklah mudah. Banga menyoroti adanya tekanan ganda yang menghimpit pemerintah di berbagai negara. Di satu sisi, negara-negara dituntut untuk melakukan investasi besar guna memperkuat ekonomi dan menciptakan lapangan kerja. Namun di sisi lain, ruang fiskal atau kemampuan anggaran negara semakin menyempit akibat beban utang yang membengkak serta tingginya biaya kebutuhan pokok seperti energi dan pupuk.

Kondisi ini menciptakan dilema bagi para pengambil kebijakan. Ketika anggaran negara habis untuk membayar utang dan menutupi biaya kebutuhan esensial, kemampuan untuk mendanai pembangunan infrastruktur dan pengembangan sumber daya manusia menjadi sangat terbatas.

Untuk menghadapi badai ini, Bank Dunia menekankan pentingnya kolaborasi pendanaan. Banga menyatakan bahwa ketergantungan pada dana publik saja tidak akan cukup. Masa depan pembangunan akan sangat bergantung pada sinergi antara pendanaan pemerintah, investasi sektor swasta, filantropi, hingga pemanfaatan teknologi.

Bank Dunia sendiri telah melakukan langkah agresif dengan meningkatkan mobilisasi modal swasta secara signifikan. Dari yang sebelumnya hanya sebesar US$35 miliar pada tahun fiskal 2022, kini telah melonjak hingga US$112 miliar. Jika digabungkan dengan pendanaan internal Bank Dunia, total modal yang terkumpul melampaui angka US$230 miliar.

Sebagai langkah konkret, Bank Dunia telah menyusun strategi tiga pilar untuk memitigasi krisis ini. Pertama, memperkuat infrastruktur fisik seperti listrik, air, dan konektivitas digital, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kedua, menciptakan kepastian regulasi dan tata kelola yang baik agar iklim usaha menjadi lebih sehat. Ketiga, memperbesar skala investasi swasta dengan cara meminimalkan risiko investasi, seperti risiko mata uang dan hambatan akses pembiayaan.

Melalui strategi ini, diharapkan kesenjangan pekerjaan yang masif dapat ditekan, sehingga generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi penggerak utama ekonomi dunia di masa depan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar