Emas Menggila, Sang Oracle Ogah Ikut Arus. Kenapa?

Emas Menggila, Sang Oracle Ogah Ikut Arus. Kenapa?

Haluannews Ekonomi – Harga emas melonjak fantastis, menembus rekor mendekati US$4.350 per ons. Di tengah euforia pasar, investor legendaris Warren Buffett justru memilih untuk tidak ikut serta dalam perburuan emas. Mengapa demikian?

COLLABMEDIANET

Lonjakan harga emas dipicu oleh kombinasi faktor, mulai dari inflasi yang tinggi, ketidakpastian ekonomi global, hingga perang dagang dan volatilitas pasar saham. Kondisi ini mendorong investor dan bank sentral untuk berbondong-bondong membeli emas sebagai aset lindung nilai yang aman.

Emas Menggila, Sang Oracle Ogah Ikut Arus. Kenapa?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, Buffett, yang dikenal dengan julukan "Oracle of Omaha," memiliki pandangan yang berbeda. Ia sejak lama meragukan emas sebagai investasi jangka panjang yang ideal. Dalam suratnya kepada pemegang saham Berkshire Hathaway pada tahun 2011, Buffett menyebut emas sebagai aset yang "tidak produktif" karena tidak menghasilkan arus kas atau menciptakan nilai seiring waktu.

Buffett lebih memilih aset yang mampu menghasilkan pendapatan dan tumbuh secara berkelanjutan dalam jangka panjang. Meskipun sempat mengejutkan pasar dengan membeli saham Barrick Gold di puncak pandemi COVID-19, ia kemudian menjual seluruh kepemilikannya dalam waktu singkat.

Sementara Buffett menjauhi emas, sejumlah analis justru menyarankan investor untuk meningkatkan alokasi emas dalam portofolio mereka. Kepala Investasi Morgan Stanley, Mike Wilson, merekomendasikan alokasi hingga 20% ke emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, juga menekankan peran defensif emas dalam melindungi investor dari pasar yang tidak sehat akibat tingginya utang.

David Schlesser dari VanEck bahkan memprediksi harga emas dapat menembus US$5.000 per ons pada tahun 2026, seiring dengan kenaikan harga Bitcoin. Ia berpendapat bahwa keduanya merupakan aset penyimpan nilai terdesentralisasi yang tidak bergantung pada pemerintah mana pun.

Intinya, Buffett mengkritik emas karena sifatnya yang tidak produktif dan tidak menghasilkan pendapatan. Ia percaya bahwa kekayaan jangka panjang hanya dapat dibangun melalui aset yang memberikan arus kas dan tumbuh nilainya dari waktu ke waktu. Meskipun kenaikan harga emas menarik minat banyak investor, Buffett menilai logam mulia tersebut sebaiknya hanya digunakan sebagai lindung nilai, bukan sebagai pengganti strategi investasi berbasis nilai.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar