Haluannews Ekonomi – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan sinyal waspada terkait prospek ekonomi global hingga pertengahan 2025. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengungkapkan bahwa ketidakpastian masih akan menjadi warna utama lanskap ekonomi dunia. Bahkan, Bank Dunia telah merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2026.

Related Post
Mahendra menjelaskan bahwa kompleksitas geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang memperkeruh suasana. Konflik di Timur Tengah dan tensi perdagangan antar negara menjadi sumber ketidakpastian yang sulit diprediksi. Meskipun sempat ada harapan dengan adanya kesepakatan dagang, terutama antara Amerika Serikat dan Tiongkok, namun efeknya belum mampu meredam gejolak ekonomi secara signifikan.

Lebih lanjut, Mahendra menyoroti bahwa mayoritas bank sentral di dunia masih memilih strategi "wait and see" dalam kebijakan moneternya. Hal ini dipicu oleh ekspektasi penurunan suku bunga acuan The Fed yang semakin tidak pasti.
Di dalam negeri, tantangan ekonomi Indonesia juga tidak kalah berat. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari berbagai lembaga seperti Bank Dunia, OECD, dan Kementerian Keuangan berada di kisaran 4,7% – 5,8%, mengindikasikan adanya perlambatan aktivitas ekonomi.
Tekanan dari sisi penawaran (supply side) masih terasa, sementara sisi permintaan belum menunjukkan penguatan yang signifikan. Hal ini disebabkan oleh penurunan daya beli kelas menengah dan berkurangnya lapangan kerja formal.
"Meskipun kinerja sektor eksternal menunjukkan pemulihan dengan surplus perdagangan yang meningkat, namun daya saing Indonesia tetap menjadi perhatian utama untuk bisa dipertahankan," tegas Mahendra.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar