Dolar AS Terjun Bebas! Rupiah Bangkit Perkasa Tembus Rp17.125

Haluannews Ekonomi – Mata uang Garuda melaju perkasa, mengawali perdagangan pagi ini, Selasa (21/4/2026), dengan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Refinitiv yang dihimpun Haluannews.id, rupiah langsung tancap gas dengan apresiasi sebesar 0,23%, menembus level Rp17.125 per dolar AS. Kinerja positif ini mengukuhkan tren kenaikan setelah pada perdagangan sebelumnya, Senin (20/4/2026), rupiah juga berhasil ditutup menguat 0,09% di posisi Rp17.165 per dolar AS.

COLLABMEDIANET

Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau bergerak stabil di level 98,090 pada pukul 09.00 WIB. Pergerakan positif rupiah hari ini merupakan respons terhadap sinergi sentimen dari ranah domestik dan dinamika pasar global. Di tengah bayang-bayang ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia, keyakinan akan resiliensi fundamental ekonomi Indonesia justru kembali mengemuka.

Dolar AS Terjun Bebas! Rupiah Bangkit Perkasa Tembus Rp17.125
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Meskipun tensi global meningkat, sejumlah lembaga internasional memberikan pandangan yang bervariasi mengenai prospek ekonomi Indonesia. Bank Dunia, misalnya, memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 dari 5,0% menjadi 4,7%. Namun, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan Asian Development Bank (ADB) justru mempertahankan pandangan bahwa ekonomi Indonesia menunjukkan resiliensi yang tangguh di tengah ketidakpastian global.

Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, menyoroti bahwa kondisi saat ini merupakan ujian krusial bagi fondasi ekonomi nasional. "Situasi sekarang menjadi momen untuk melihat apakah ekonomi Indonesia benar-benar masih kuat atau mulai tertekan oleh guncangan dari luar," ujarnya. Laporan terbaru NEXT Indonesia Center, bertajuk "Sinyal Daya Tahan Ekonomi Indonesia," yang membedah arah pertumbuhan ekonomi melalui instrumen Composite Leading Indicator (CLI), turut menyoroti perbedaan proyeksi yang cukup lebar antara lembaga internasional, terutama antara Bank Dunia dan ADB. ADB sendiri masih optimistis, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai 5,2%, lebih tinggi dibanding capaian tahun sebelumnya, meskipun awan ketidakpastian global masih menyelimuti.

Dari ranah eksternal, dolar AS menunjukkan pergerakan yang stabil di kisaran level 98 setelah sempat melemah pada sesi sebelumnya. Pasar kini secara intensif mencermati potensi terwujudnya kesepakatan damai jangka panjang antara Amerika Serikat dan Iran. Jika terwujud, kesepakatan ini berpotensi mereduksi daya tarik aset safe haven seperti dolar AS. Wakil Presiden AS, JD Vance, dijadwalkan kembali memimpin delegasi AS ke Pakistan, sementara Teheran juga mengisyaratkan akan mengirim perwakilannya setelah sebelumnya sempat memberi sinyal enggan melanjutkan pembicaraan.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan kecil kemungkinan gencatan senjata saat ini akan diperpanjang tanpa adanya kesepakatan konkret sebelum masa berlakunya habis pekan ini. Ia juga menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap diblokade sampai kesepakatan damai benar-benar tercapai. Di tengah dinamika geopolitik tersebut, harga minyak dunia mulai menunjukkan tanda-tanda koreksi. Kondisi ini sedikit mengendurkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi, sekaligus mengurangi spekulasi tentang langkah moneter yang lebih agresif dari bank sentral global. Bank Sentral AS (The Federal Reserve) sendiri diperkirakan akan mempertahankan suku bunga stabil pada bulan ini dan cenderung mempertahankan sikap tersebut hingga tahun 2026.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar