Haluannews Ekonomi – Nilai tukar rupiah mengawali tahun 2026 dengan performa yang kurang menggembirakan, berakhir di zona pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan perdana, Jumat (2/1/2026). Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda terparkir di level Rp16.715/US$ saat penutupan, mencatat depresiasi sebesar 0,27%. Sejak pembukaan pagi hari, rupiah sudah menunjukkan tekanan, dibuka melemah 0,06% di kisaran Rp16.780/US$, dan tren tersebut berlanjut hingga akhir sesi perdagangan.

Related Post
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang menjadi barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat tipis 0,03% ke posisi 98,350 pada pukul 15.00 WIB. Penguatan dolar ini menjadi salah satu faktor eksternal utama yang memberikan tekanan pada pergerakan rupiah.

Meskipun sempat melemah signifikan di tahun sebelumnya, sejumlah analis pasar menilai prospek kebangkitan dolar AS pada tahun 2026 masih terbuka lebar. Mereka berpendapat bahwa narasi tentang puncak supremasi dolar mungkin telah dibesar-besarkan, mengingat ketahanan ekonomi Amerika Serikat yang relatif lebih kuat dibandingkan negara maju lainnya. Kondisi ini berpotensi kembali mendorong apresiasi dolar di pasar global.
Fokus pasar global kini juga tertuju pada serangkaian data ekonomi penting AS yang akan dirilis pekan depan, termasuk laporan payroll dan data klaim pengangguran. Data-data ini akan menjadi petunjuk krusial mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) ke depan. Bersamaan dengan itu, proses penunjukan Ketua The Fed yang baru, menyusul berakhirnya masa jabatan Jerome Powell pada Mei mendatang, turut dicermati investor. Spekulasi menguat bahwa calon pilihan Presiden Donald Trump kemungkinan akan memiliki bias kebijakan yang lebih dovish, mengingat kritik Trump sebelumnya terhadap laju penurunan suku bunga The Fed.
Ekspektasi pasar saat ini cenderung mengarah pada kemungkinan dua kali pemangkasan suku bunga acuan The Fed sepanjang tahun ini, sebuah proyeksi yang lebih agresif dibandingkan pandangan internal The Fed yang masih terbelah. Analis dari Goldman Sachs, misalnya, menyoroti bahwa kekhawatiran pasar terkait independensi bank sentral kemungkinan akan terus berlanjut di tahun 2026. Hal ini menjadi salah satu faktor yang mendorong risiko proyeksi suku bunga The Fed cenderung mengarah pada kebijakan moneter yang lebih longgar.
Dengan demikian, ketidakpastian arah kebijakan moneter AS, sentimen terhadap dolar global, serta dinamika politik di Washington, tetap menjadi faktor eksternal utama yang membayangi dan berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah di pasar keuangan internasional.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar