haluannews.id – PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), pengelola jaringan klinik mata terkemuka, berhasil mencatatkan debut fantastis di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari ini. Sebagai emiten ketiga yang resmi diperdagangkan sepanjang tahun ini, saham JECX langsung meroket, menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) pada pembukaan perdagangan perdananya.

Related Post
Dalam penawaran umum perdana saham (IPO) yang sangat dinanti, JECX melepas total 487.983.500 lembar saham biasa kepada investor. Jumlah ini merepresentasikan 15% dari keseluruhan modal yang ditempatkan dan disetor, dengan harga penawaran awal sebesar Rp1.250 per saham. Penjualan saham tersebut terbagi menjadi 325.322.300 saham baru, atau 10% dari modal pasca-IPO, serta 162.661.200 saham divestasi milik Waldensius Girsang, yang setara dengan 5% kepemilikan setelah IPO.

Melalui aksi korporasi ini, perusahaan sukses meraup dana segar senilai Rp609,9 miliar. Rinciannya, Rp406,6 miliar berasal dari penerbitan saham baru perusahaan, sementara Rp203,32 miliar diperoleh dari penjualan saham divestasi. Dengan harga penawaran tersebut, kapitalisasi pasar JECX saat pertama kali tercatat di bursa diperkirakan mencapai sekitar Rp4,07 triliun.
Pada pembukaan perdagangan perdananya, Selasa 7 Juli 2026, saham JECX langsung melonjak tajam. Harga saham operator klinik mata ini dibuka pada level Rp1.560 per lembar, menandai kenaikan impresif sebesar 24,5% yang langsung mengantarkannya ke posisi Auto Reject Atas (ARA).
Presiden Direktur PT Nitrasanata Dharma Tbk Johan A. M. M. Hutauruk mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran proses IPO ini. Ia menyebutkan, tingkat permintaan atau oversubscribed mencapai 62,5 kali pada porsi penjatahan terpusat, dengan jumlah pemesan yang mencapai 555.699 investor. "Kami sangat bersyukur seluruh proses IPO PT Nitrasanata Dharma Tbk dapat berjalan lancar hingga akhirnya Perseroan resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia," tutur Johan di Gedung BEI, Jakarta.
Dana yang berhasil dihimpun dari IPO ini akan dialokasikan untuk beberapa keperluan strategis. Sekitar Rp275 miliar akan digunakan untuk melunasi sebagian pokok pinjaman kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank HSBC Indonesia. Sementara sisa dana akan dimanfaatkan sebagai setoran modal untuk PT Nitra Sanata Bali dan tambahan modal kerja untuk operasional rutin perusahaan.
JEC sendiri saat ini memiliki jaringan operasional yang luas, meliputi 5 rumah sakit spesialis mata dan 11 klinik yang tersebar di berbagai wilayah strategis seperti Jawa, Bali, dan Sulawesi.
Dari sisi kinerja keuangan, JEC menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang konsisten. Laba tahun berjalan pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp72,49 miliar. Meskipun demikian, perusahaan menghadapi tekanan pada laba bersih dibandingkan pencapaian tahun 2023, terutama akibat tingginya beban operasional dan beban keuangan.










Tinggalkan komentar