Bursa Menggila Saham Ini Siap Bikin Kaya

Bursa Menggila Saham Ini Siap Bikin Kaya

haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan performa impresif pada penutupan perdagangan Selasa (21/7), melesat 1,74% dan bertengger di level 6.340,02. Kenaikan signifikan ini terutama ditopang oleh performa gemilang saham-saham unggulan seperti AMMN, DSSA, dan BBRI, meskipun laju penguatan sedikit tertahan oleh pelemahan saham KLBF, FILM, dan HEAL. Optimisme pasar juga tercermin dari aksi borong investor asing, yang membukukan pembelian bersih (net buy) fantastis, mencapai Rp360,21 miliar di pasar reguler dan total Rp31,36 miliar di seluruh segmen. Secara sektoral, 10 dari 11 indeks sektor ditutup menguat, dengan sektor energi memimpin lonjakan 3,48%, sementara sektor kesehatan menjadi satu-satunya yang melemah 1,33%.

COLLABMEDIANET

Sentimen positif dari pasar global turut memicu semangat investor domestik. Bursa saham Amerika Serikat kompak ditutup menguat, di mana Indeks Dow Jones naik 0,74%, S&P 500 menguat 0,89%, dan Nasdaq melonjak 1,29%. Pergerakan positif ini juga didukung oleh kenaikan saham-saham berbeta tinggi seperti CUAN, TPIA, AMMN, dan BRPT yang menjadi penopang utama IHSG. Sementara itu, indeks ETF EIDO dan MSCI Indonesia masing-masing turut menguat 1,36% dan 1,23%.

Bursa Menggila Saham Ini Siap Bikin Kaya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di tengah euforia pasar, sejumlah emiten melancarkan aksi korporasi strategis yang patut dicermati. PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) melalui anak usahanya di Singapura, Star Energy Group Holdings Pte. Ltd. (SEGHPL), berhasil mengamankan fasilitas pinjaman berjangka hingga US$300 juta atau setara Rp5,37 triliun dari Bangkok Bank Public Company Limited. Perjanjian pinjaman tersebut telah diteken pada 17 Juli 2026. Dana ini akan digunakan untuk pengembangan proyek panas bumi, dengan Fasilitas A sebesar US$105 juta dialokasikan untuk kebutuhan prakonstruksi proyek Suoh Sekincau di Sumatera. Sementara itu, Fasilitas B senilai US$195 juta akan mendukung penyertaan modal pembangunan proyek Suoh Sekincau (US$105 juta) dan proyek panas bumi Hamiding di Maluku (US$90 juta). Kedua fasilitas ini memiliki jangka waktu hingga 60 bulan sejak penarikan pertama. Transaksi ini tergolong material, setara 33,95% dari ekuitas BREN berdasarkan laporan keuangan FY2025 sebesar US$883,52 juta. Rasio utang terhadap ekuitas (DER) BREN tercatat membaik menjadi 3,21 kali pada kuartal I-2026, dari 3,38 kali pada akhir 2025, dengan total ekuitas mencapai US$936,44 juta. Penarikan pinjaman dijadwalkan bertahap hingga Agustus 2026 untuk Fasilitas A dan Desember 2027 untuk Fasilitas B.

Tak kalah menarik, PT Asia Sejahtera Mina Tbk. (AGAR) mengumumkan rencana perubahan pengendali setelah Suprajitno Sutomo menyampaikan Letter of Intent (LoI) pada 16 Juli 2026 untuk mengakuisisi saham perseroan. Rencana ini mencakup pembelian 450 juta saham dari PT Indo Kreasi Pratama serta sedikitnya 60 juta saham dari pemegang saham lainnya, sehingga total saham yang ditargetkan mencapai minimal 510 juta saham atau setara 51% dari modal ditempatkan dan disetor penuh AGAR. Perseroan menyatakan bahwa pengambilalihan ini bertujuan untuk mendukung pengembangan dan ekspansi bisnis. Setelah transaksi rampung, proses selanjutnya akan mengikuti ketentuan penawaran tender wajib (mandatory tender offer/MTO) sesuai POJK No. 9/POJK.04/2018.

Sementara itu, PT Fortune Indonesia Tbk. (FORU) bersiap melancarkan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD I) melalui penerbitan sebanyak-banyaknya 215,10 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp126 per saham. Dari aksi korporasi ini, FORU berpotensi meraup dana hingga sekitar Rp27,10 triliun. Dana hasil rights issue akan menjadi pilar transformasi FORU menjadi perusahaan induk di sektor pertambangan batu bara kokas melalui akuisisi 49% saham Borneo Prima (BP). Sekitar 76,81% dari dana yang dihimpun, atau sekitar Rp20,82 triliun, akan digunakan untuk mengambil alih saham BP milik IMR Asia Holding Pte. Ltd. melalui mekanisme inbreng. Sisa dana dari setoran tunai publik, dengan nilai maksimal sekitar Rp6,28 triliun, direncanakan sebagai pinjaman modal kerja kepada Borneo Prima. Perusahaan tersebut mengelola tambang batu bara kokas di Murung Raya, Kalimantan Tengah, dengan konsesi seluas 15.000 hektare dan cadangan total berdasarkan Kode JORC 2012 sebesar 87,70 juta ton. Setelah transaksi terlaksana, total aset FORU diproyeksikan melonjak drastis menjadi sekitar Rp8,71 triliun dari sebelumnya Rp33,55 miliar, sementara ekuitas diperkirakan naik menjadi Rp7,78 triliun dari Rp19,23 miliar. Namun, pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya dalam rights issue berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga 99,78%.

Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar