Keajaiban IHSG Sesi 1 Bangkit dari Tekanan

Keajaiban IHSG Sesi 1 Bangkit dari Tekanan

haluannews.id – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi perdagangan pertama hari ini berakhir di teritori negatif. Meski demikian, indeks berhasil memangkas koreksi signifikan yang sempat menekan pasar lebih dari satu persen di awal sesi, menunjukkan daya tahan yang patut diperhitungkan. IHSG menutup sesi siang pada level 6.496,89, hanya turun tipis 4,78 poin atau 0,07% dari posisi penutupan sebelumnya di 6.501,66.

COLLABMEDIANET

Perjalanan IHSG sepanjang sesi pagi ini berlangsung penuh gejolak. Setelah dibuka dengan optimisme di 6.507,14 dan sempat menyentuh puncak harian di 6.532,17, tekanan jual yang masif menyeret indeks anjlok tajam hingga menyentuh titik terendah 6.422,61. Namun, menjelang penutupan sesi I, upaya pemulihan berhasil mengangkat kembali sebagian besar pelemahan, menghindari kerugian yang lebih dalam.

Keajaiban IHSG Sesi 1 Bangkit dari Tekanan
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kondisi ini sedikit kontras dengan mayoritas bursa saham di kawasan Asia yang justru bergerak dalam tren penguatan. Indeks Kospi Korea Selatan memimpin dengan kenaikan 1,99%, diikuti bursa Taiwan yang melonjak 1,37%. Sementara itu, Shenzhen naik 1,23%, Nikkei Jepang bertambah 0,80%, Hang Seng menguat 0,67%, dan Shanghai Composite juga mencatat kenaikan 0,65%.

Di pasar domestik, tekanan terhadap IHSG tercermin dari dominasi saham-saham yang melemah. Sebanyak 419 emiten mengalami penurunan harga, berbanding 209 saham yang berhasil menguat, dan 160 saham lainnya terpantau stagnan. Aktivitas transaksi pada sesi pertama mencatat nilai sebesar Rp8,98 triliun, dengan volume perdagangan mencapai sekitar 232,12 juta lot, dan frekuensi transaksi menembus angka 1,4 juta kali.

Secara sektoral, performa pasar terbagi dua. Empat sektor berhasil mencatatkan kenaikan, dengan sektor kesehatan menjadi bintang utama yang melonjak impresif 5,28%. Sektor properti menyusul dengan kenaikan 2,24%, sementara sektor barang baku dan energi masing-masing menguat tipis 0,28% dan 0,14%. Sebaliknya, sektor utilitas menjadi yang paling terpuruk dengan koreksi 0,86%, diikuti sektor teknologi yang juga melemah 0,85%.

Beberapa saham menjadi penopang utama yang membantu IHSG memangkas pelemahan. PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) memberikan kontribusi kenaikan terbesar sebesar 8,06 poin. Disusul oleh PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) dengan 5,22 poin dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebesar 5,21 poin. Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga turut menyumbang 3,72 poin, diikuti PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) sebesar 1,98 poin.

Di sisi lain, saham-saham berkapitalisasi besar turut menjadi pemberat indeks. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi penekan utama dengan kontribusi negatif 4,67 poin. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyusul dengan minus 1,74 poin, sementara PT Indosat Tbk (ISAT) memberikan tekanan sebesar 1,68 poin. Saham PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masing-masing menekan IHSG sebesar 1,64 poin dan 1,57 poin.

Pasar keuangan Indonesia kembali beraktivitas hari ini setelah libur nasional Maulid Nabi Muhammad SAW. Investor domestik kini menyoroti proses uji kelayakan calon Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, serta perkembangan rencana pembentukan bursa mineral dan komoditas strategis.

Dari kancah global, perhatian pasar tertuju pada serangkaian data ekonomi penting Amerika Serikat (AS), mulai dari angka inflasi, pertumbuhan ekonomi, hingga laporan pendapatan dan belanja masyarakat. Sentimen pasar di kawasan juga dibayangi oleh eskalasi konflik dagang antara AS dan Kanada. Ottawa pada Selasa mengumumkan tarif balasan terhadap produk-produk AS senilai sekitar US$20 miliar, mencakup lebih dari 700 jenis barang. Langkah ini merupakan respons "dolar untuk dolar" atas tarif 50% yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump pekan lalu, menyusul kegagalan perundingan dagang kedua negara. Selain perkembangan perang dagang, rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS periode Juli juga sangat dinantikan, sebagai indikator inflasi kunci bagi Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan moneternya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar