Bursa Berdarah! IHSG Ambles, Saham Prajogo Jadi Pemicu Utama?

Haluannews Ekonomi – Pasar modal Indonesia menghadapi tekanan signifikan pada sesi pertama perdagangan hari ini, Kamis, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah. Indeks acuan ini anjlok 95,64 poin atau 1,27%, mendarat di level 7.445,97. Penurunan tajam ini tak lepas dari performa saham-saham konglomerasi Prajogo Pangestu, khususnya BREN dan DSSA, yang kembali menjadi beban utama bursa.

COLLABMEDIANET

Data dari Haluannews.id menunjukkan, sentimen negatif mendominasi pasar, tercermin dari 471 saham yang mengalami koreksi, sementara hanya 236 saham yang berhasil menguat, dan 252 saham stagnan. Aktivitas transaksi mencapai Rp 11,67 triliun, melibatkan 31,09 miliar saham dalam 1,88 juta kali transaksi. Imbasnya, kapitalisasi pasar turut menyusut signifikan menjadi Rp 13.269 triliun.

Bursa Berdarah! IHSG Ambles, Saham Prajogo Jadi Pemicu Utama?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSSA) tercatat menjadi "biang kerok" utama pelemahan IHSG. BREN anjlok 8,52%, menyumbang 16,97 poin terhadap pelemahan indeks. Sementara itu, DSSA tak kalah parah, ambruk 4,38% dan berkontribusi minus 9,7 poin.

Tekanan jual masif terhadap BREN dan DSSA merupakan respons langsung terhadap pengumuman MSCI. Indeks global tersebut berencana mendepak saham-saham yang masuk daftar High Shareholder Concentration (HSC) dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). BREN dan DSSA, yang termasuk dalam sembilan saham di daftar HSC, kini menjadi target pelepasan portofolio investor asing. Proyeksi likuidasi dana pasif akibat penghapusan ini diperkirakan mencapai Rp 25,5 triliun pada Mei mendatang, memicu restrukturisasi portofolio asing yang terukur.

Selain dua raksasa tersebut, beberapa saham komoditas lain juga turut membebani IHSG, di antaranya PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

Di sisi lain, pasar minyak dunia kembali memanas. Harga minyak mentah melanjutkan reli tajam pada Kamis pagi pukul 10.10 WIB, dipicu oleh eskalasi ketegangan di Selat Hormuz. Minyak mentah Brent melonjak ke US$103,93 per barel, dari penutupan sebelumnya di US$101,91. Senada, West Texas Intermediate (WTI) menguat ke US$95,05 per barel, dari US$92,96.

Kenaikan ini melanjutkan tren lonjakan lebih dari 3% sehari sebelumnya. Brent telah merangkak naik dari US$90,38 pada 17 April menjadi hampir US$104 per barel pagi ini, menunjukkan bahwa pasar kini menempatkan premi risiko geopolitik dalam skala besar pada harga energi. Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak global, kembali menjadi pusat kegelisahan pasar.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar