Bukan Harta! Ini Pilihan Spiritual Bos Gunung Agung di Puncak Kejayaan

Bukan Harta! Ini Pilihan Spiritual Bos Gunung Agung di Puncak Kejayaan

Haluannews Ekonomi – Harta melimpah ruah seringkali dianggap sebagai puncak kebahagiaan dan ketenangan. Namun, bagi sebagian konglomerat, kekayaan materi justru bisa menjadi sumber kegelisahan. Fenomena paradoks ini dialami oleh Masagung, atau Tjio Wie Tay, seorang pengusaha keturunan Tionghoa yang dikenal sebagai pemilik imperium Toko Buku Gunung Agung. Di tengah puncak kejayaannya, Masagung justru menemukan ketenangan sejati bukan dari pundi-pundi uang, melainkan melalui sebuah perjalanan spiritual yang mengubah hidupnya secara drastis.

COLLABMEDIANET

Gunung Agung, yang awalnya dikenal sebagai toko buku terkemuka, di bawah kepemimpinan Masagung berkembang pesat merambah berbagai sektor. Bisnisnya meluas ke pariwisata, perhotelan, hingga penukaran uang, menjadikannya salah satu taipan paling berpengaruh di masanya. Meskipun enggan menyebutkan angka pasti kekayaannya, indikator finansialnya sungguh fantastis. Menurut catatan dalam buku "Apa dan Siapa?" (2004), grup bisnisnya kala itu harus membayar pajak mencapai Rp200 juta dan bea cukai sebesar Rp2 miliar, belum termasuk pajak pendapatan dari lebih dari 2.000 karyawannya. Angka-angka ini mengindikasikan skala kekayaan yang luar biasa.

Bukan Harta! Ini Pilihan Spiritual Bos Gunung Agung di Puncak Kejayaan
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, di balik gemerlap kesuksesan finansial itu, tersimpan kegelisahan mendalam. Seperti diungkapkan oleh sejarawan Denys Lombard dalam "Nusa Jawa Silang Budaya" (2009), Masagung dihantui kekhawatiran bahwa kejayaan dan kekayaan yang ia miliki justru bisa menjadi bumerang, menyeretnya ke dalam jurang kemaksiatan dan kehampaan. Kegalauan eksistensial ini mendorongnya mencari makna hidup yang lebih dalam.

Titik balik signifikan hadir melalui pertemuannya dengan Ibu Tien Fuad Muntaco, seorang ahli hipnotisme dan telepati. Pertemuan ini menjadi katalisator bagi transformasi spiritual Masagung. "Usai pertemuan itu, dia jatuh di bawah pengaruh spiritual Ibu Tien dan memutuskan untuk memeluk agama Islam," tulis Lombard, menjelaskan bahwa Masagung sebelumnya menganut agama Hindu.

Keputusan untuk memeluk agama Islam membawa perubahan fundamental dalam diri Masagung. Menurut Leo Suryadinata dalam "Southeast Asian Personalities of Chinese Descent" (2012), pengaruh Islam membuat Masagung menjadi pribadi yang lebih islami dan bahkan tampil sebagai tokoh sentral dalam penyebaran ajaran Islam. Dedikasinya terhadap syiar Islam tak hanya sebatas keyakinan pribadi, melainkan diwujudkan dalam aksi nyata yang berdampak luas.

Melalui Yayasan Jalan Terang yang ia dirikan, Masagung berinvestasi dalam pembangunan masjid, rumah sakit, dan bahkan museum Wali Songo. Ia juga aktif berperan dalam kegiatan dakwah di masjid-masjid dan mempromosikan Islam dengan menerbitkan berbagai buku Islami. Ini membuktikan bahwa kekayaan dapat menjadi sarana untuk kebaikan yang lebih besar dan investasi sosial yang tak ternilai.

Lombard memuji langkah Masagung ini sebagai "langkah-langkah maju," terutama setelah masa muda yang penuh keresahan, ia merangkul tradisi Jawa dan kegemarannya pada kebatinan. Masagung terus menyebarkan ajaran Islam tanpa lelah, hingga akhir hayatnya pada 24 September 1990. Kisahnya menjadi pengingat bahwa ketenangan sejati seringkali tidak ditemukan dalam tumpukan harta, melainkan dalam perjalanan spiritual dan dedikasi untuk kemaslahatan umat.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar