haluannews.id – PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk BBRI kini tidak lagi sekadar mengejar pertumbuhan bisnis yang tinggi melainkan memprioritaskan ekspansi yang sehat berkualitas dan berkelanjutan Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan komitmen ini menjadi pilar utama dalam strategi perseroan.

Related Post
Hery menjelaskan bahwa langkah strategis ini diwujudkan melalui program transformasi yang diberi nama BRIvolution Reignite Program ini memiliki dua agenda utama yang dijalankan secara simultan Pertama adalah memperkokoh basis pendanaan dan mengoptimalkan bisnis inti Kedua adalah membangun sumber-sumber pertumbuhan baru bagi perusahaan.

"Fokus BRI bukan hanya pada angka pertumbuhan yang fantastis namun lebih kepada memastikan bahwa setiap ekspansi yang kami lakukan semakin sehat berkualitas dan berkelanjutan" ujar Hery dalam paparan kinerja BRI Semester I-2026 yang diselenggarakan secara virtual pada Senin 31 Agustus 2026.
Dalam upaya penguatan pendanaan BRI membidik peningkatan dana murah atau Current Account Savings Account CASA melalui pendekatan berbasis ekosistem Pendekatan ini terbukti efektif sepanjang paruh pertama tahun ini dimana BRI berhasil menekan biaya dana atau Cost of Fund CoF. Penurunan CoF ini sejalan dengan semakin dominannya porsi CASA dalam struktur pendanaan perseroan.
Data laporan keuangan BRI per 30 Juni 2026 menunjukkan CoF BRI berada di angka 24 persen menurun signifikan dari 34 persen pada Semester I-2025 Ini berarti biaya dana perseroan menyusut sekitar 100 basis poin secara tahunan. Pada periode yang sama rasio CASA BRI mencapai 676 persen meningkat dari 655 persen di tahun sebelumnya Secara nominal CASA juga mencatat pertumbuhan impresif sebesar 101 persen year-on-year yoy.
Selain itu Hery menambahkan perseroan juga terus memaksimalkan kapabilitas kanal digital mulai dari akuisisi merchant penguatan transaksi digital hingga pengembangan jaringan AgenBRILink yang semakin luas. Penguatan bisnis juga dilakukan melalui klasterisasi integrasi rantai nilai atau value chain serta penerapan konsep One BRI Solution.
Pada segmen bisnis inti BRI melakukan pembenahan mendalam terhadap sektor mikro yang selama ini menjadi tulang punggung kekuatan BRI Langkah ini meliputi perbaikan proses bisnis dan penerapan manajemen risiko yang lebih terperinci Hery menekankan bahwa pertumbuhan bisnis mikro ke depan harus selaras dengan peningkatan kualitas aset.
Di sisi lain BRI juga aktif menciptakan mesin pertumbuhan baru dengan menangkap potensi dari ekosistem dan rantai nilai bisnis yang ada Perseroan membidik pengembangan bisnis akuisisi payroll peningkatan kualitas produk konsumer hingga perluasan layanan bullion bank melalui sinergi kuat dalam BRI Group.
"Seluruh agenda ini memiliki satu tujuan yang sama yaitu membentuk mesin pertumbuhan BRI yang lebih beragam dan berkualitas tinggi" tutur Hery.
Strategi ini bukan sekadar rencana jangka panjang namun telah dieksekusi dan mulai menunjukkan dampak positif terhadap kinerja perseroan Hal ini tercermin dalam berbagai indikator utama BRI hingga Semester I-2026. Bisnis tumbuh semakin kokoh fungsi intermediasi meningkat rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan NPL menurun sementara pertumbuhan bisnis berhasil dikonversikan menjadi peningkatan profitabilitas yang substansial.
Total aset BRI pada Semester I-2026 mencapai Rp2352 triliun menunjukkan pertumbuhan 117 persen secara tahunan. Peningkatan ini didorong oleh akselerasi penyaluran kredit yang tumbuh 162 persen secara tahunan menjadi Rp1646 triliun.
Meski penyaluran kredit meningkat BRI tetap mampu menjaga kualitas asetnya NPL BRI pada Semester I-2026 turun menjadi 29 persen dari 30 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perbaikan kualitas kredit ini juga terlihat pada Cost of Credit CoC yang menurut Hery turun dari 34 persen menjadi 31 persen.
"Dari sisi NPL terjadi perbaikan dari 3 persen menjadi 29 persen yang tercermin pada penurunan CoC yang cukup signifikan dari 34 persen menjadi 31 persen" jelas Hery.
Penurunan CoC ini mengindikasikan bahwa biaya yang harus ditanggung BRI untuk mengantisipasi risiko kredit semakin terkendali Sebuah pencapaian penting mengingat hal ini terjadi di tengah penguatan penyaluran kredit. Indikator kualitas aset yang lebih luas juga menunjukkan perbaikan signifikan Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti menyebutkan Loan at Risk LAR BRI turun drastis dalam enam bulan pertama 2026 menjadi 91 persen.
Sebagai hasilnya BBRI berhasil mencetak laba bersih tahun berjalan sebesar Rp312 triliun sepanjang Semester I-2026 Angka ini melonjak 175 persen secara tahunan dari Rp2653 triliun pada Semester I-2025. Pendapatan bunga juga turut mendorong capaian ini tercatat sebesar Rp10792 triliun naik 541 persen yoy.










Tinggalkan komentar