Haluannews Ekonomi – Bank Sentral Republik Indonesia, Bank Indonesia (BI), kembali mengukuhkan komitmennya untuk menjaga laju pertumbuhan basis moneter (M0) atau uang primer di level dua digit yang kokoh untuk periode mendatang, bahkan melampaui 12%. Gubernur BI, Perry Warjiyo, secara eksplisit menjanjikan upaya untuk memacu pertumbuhan M0 di atas 10% hingga 12%. Pernyataan krusial ini disampaikannya dalam forum Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Rabu, 22 April 2026. Langkah ini krusial untuk memastikan ketersediaan likuiditas yang memadai, menjadi fondasi kuat bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.

Related Post
Data terkini dari Haluannews.id menunjukkan, pada Maret 2026, pertumbuhan M0 memang telah mencapai angka impresif 11,8% secara tahunan (yoy). Kontribusi signifikan datang dari pertumbuhan giro Bank Umum di Bank Indonesia yang melonjak 38,3%, serta peningkatan uang kartal sebesar 8,6%. Perry menjelaskan, dorongan utama di balik pertumbuhan M0 pada periode tersebut adalah kombinasi antara ekspansi kebijakan fiskal pemerintah dan strategi operasi moneter yang diterapkan BI.

Untuk menjaga momentum ini dan mencapai target yang dicanangkan, BI akan mengoptimalkan berbagai instrumen pengelolaan likuiditas melalui operasi moneter. Mekanisme yang akan ditempuh meliputi penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Tak hanya itu, BI juga berencana memberikan remunerasi bagi perbankan yang memiliki kelebihan cadangan (excess reserves). Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong bank untuk lebih proaktif mendistribusikan kelebihan likuiditasnya ke sektor riil, memutar roda perekonomian melalui penyaluran kredit dan investasi. Dengan demikian, janji BI untuk menjaga uang primer di level dobel digit bukan sekadar angka, melainkan strategi konkret untuk memastikan denyut ekonomi tetap kencang.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar