haluannews.id – PT Bank Permata Tbk (BNLI) kini dihadapkan pada pergeseran signifikan dalam komposisi pendanaannya yang berpotensi memicu lonjakan biaya dana. Data terkini menunjukkan dana murah atau CASA mulai menyusut drastis sementara porsi deposito justru membengkak. Situasi ini diprediksi kuat akan menekan biaya dana (cost of fund) Bank Permata apabila tren ini terus berlanjut.

Related Post
Laporan keuangan perseroan per akhir Juni 2026 mengungkap fakta menarik. Saldo giro Bank Permata anjlok 12,2% secara year-to-date (ytd) menjadi Rp64,74 triliun dari posisi Rp73,71 triliun di penutupan 2025. Tren serupa juga melanda tabungan yang tergerus 9,4% ytd, kini berada di angka Rp44,77 triliun dari sebelumnya Rp49,40 triliun. Namun, deposito berjangka justru melonjak 14,3% ytd, mencapai Rp79,65 triliun dari Rp69,67 triliun.

Dalam rentang enam bulan pertama tahun ini, total dana murah Bank Permata menguap sekitar Rp13,6 triliun. Ironisnya, di periode yang sama, dana deposito justru membengkak hampir Rp10 triliun. Pergeseran komposisi dana pihak ketiga (DPK) ini jelas berpotensi menciptakan tekanan signifikan pada biaya pendanaan bank. Sebab, bunga deposito lazimnya jauh lebih tinggi ketimbang giro dan tabungan. Kenaikan porsi deposito otomatis dapat menggerus margin bunga bersih (NIM) jika tidak diimbangi peningkatan imbal hasil aset produktif.
Kondisi ini diperparah dengan langkah Bank Indonesia yang agresif menaikkan BI rate hingga 100 basis poin dalam sebulan, tepatnya pada Mei-Juni 2026. Meskipun pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) terakhir BI memutuskan menahan suku bunga acuan di level 5,75%.
Tekanan pada bisnis inti Bank Permata mulai terkuak dari penurunan pendapatan bunga dan syariah bersih. Angkanya merosot menjadi Rp4,84 triliun pada semester I-2026, dari Rp5,04 triliun di periode serupa tahun sebelumnya. Menariknya, laba bersih perseroan justru tercatat naik menjadi Rp1,72 triliun dari Rp1,65 triliun. Namun, kenaikan ini tak lepas dari penurunan signifikan beban kerugian penurunan nilai (CKPN) yang terpangkas dari Rp1,06 triliun menjadi Rp795 miliar.
Tak hanya itu, Bank Permata juga terpantau mengandalkan instrumen pendanaan jangka pendek. Utang atas efek-efek yang dijual dengan janji dibeli kembali (repo) melonjak drastis menjadi Rp10,91 triliun per Juni 2026, dari hanya Rp2,26 triliun di akhir 2025. Lonjakan penggunaan repo ini terjadi seiring dengan pergeseran drastis struktur dana pihak ketiga.
Di tengah tantangan ini, kualitas aset Bank Permata masih menunjukkan ketahanan. Kredit yang disalurkan berhasil tumbuh menjadi Rp158,98 triliun dari Rp152,11 triliun di penghujung tahun lalu.










Tinggalkan komentar