Haluannews Ekonomi – PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) tengah mempersiapkan diri menghadapi gelombang tantangan geopolitik yang diperkirakan akan memuncak pada tahun 2026. Direktur Keuangan ELPI, Efilya Kusumadewi, memaparkan strategi adaptif perusahaan dalam mengelola bisnis pelayaran angkutan komoditas dan operasional migas (offshore) di tengah ketidakpastian global. Paparan ini disampaikan dalam sesi dialog eksklusif ‘Closing Bell’ Haluannews.id pada Selasa, 21 April 2026, menyoroti urgensi mitigasi risiko di sektor maritim.

Related Post
Dampak konflik global, meskipun tidak langsung, terasa signifikan terhadap struktur biaya operasional perusahaan. Kenaikan harga energi, terutama Bahan Bakar Minyak (BBM), menjadi pemicu utama lonjakan Cost of Sales (COS). Selain itu, biaya asuransi, upah kru, dan harga suku cadang kapal juga mengalami eskalasi substansial. Faktor-faktor ini secara kolektif meningkatkan beban operasional yang harus ditanggung ELPI, menuntut efisiensi dan strategi keuangan yang cermat untuk menjaga profitabilitas di tengah tekanan inflasi global.

Menyikapi tekanan ini, Efilya Kusumadewi menegaskan bahwa ELPI fokus pada beberapa pilar strategis untuk menjaga keberlanjutan bisnis. Pertama, optimalisasi utilisasi armada kapal menjadi prioritas utama guna memenuhi kontrak kerja pelayaran yang ada dan mengamankan pendapatan. Kedua, perusahaan berkomitmen menjaga stabilitas arus kas (cashflow) agar likuiditas tetap terjaga di tengah fluktuasi pasar. Ketiga, pengelolaan rasio utang yang prudent menjadi kunci untuk mempertahankan kesehatan finansial dan kapasitas ekspansi di masa mendatang. Langkah-langkah ini diharapkan dapat membentengi ELPI dari gejolak ekonomi global dan memastikan operasional tetap berjalan optimal.
Dengan pendekatan yang terukur dan adaptif, ELPI berupaya menavigasi kompleksitas lanskap geopolitik global, menjaga performa bisnis tetap solid di sektor pelayaran.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar