Asuransi Juga Kena "Rohana-Rojali", Daya Beli Tertekan?

Asuransi Juga Kena "Rohana-Rojali", Daya Beli Tertekan?

Haluannews Ekonomi – Fenomena "Rohana-Rojali" yang mencerminkan perilaku konsumen yang hanya melihat-lihat tanpa membeli, kini tak hanya menghantui sektor ritel, tetapi juga industri asuransi. Indikasi ini mengisyaratkan adanya tekanan pada daya beli masyarakat yang semakin terasa.

COLLABMEDIANET

Istilah "Rojali" yang merupakan akronim dari "rombongan jarang beli", dan "Rohana" yang berarti "rombongan hanya nanya", menggambarkan perilaku konsumen yang cenderung menunda pembelian. Direktur Utama AXA Financial Indonesia, Niharika Yadav, mengungkapkan bahwa perilaku serupa juga diamati pada calon nasabah asuransi.

Asuransi Juga Kena "Rohana-Rojali", Daya Beli Tertekan?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Niharika membagi calon nasabah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang sudah paham betul manfaat asuransi, termasuk perbedaannya dengan produk perbankan serta keuntungan pajak yang ditawarkan. Kelompok ini memiliki kebutuhan yang jelas, sehingga perusahaan dapat merancang produk yang sesuai.

"Kelompok ini bukan termasuk Rojali karena mereka sudah tahu apa yang mereka butuhkan, dan kami merancang produk sesuai dengan kebutuhan tersebut," ujar Niharika.

Kelompok kedua adalah masyarakat kelas menengah ke bawah yang mengalami peningkatan status sosial berkat akses pendidikan dan peningkatan pendapatan keluarga. Mereka memiliki aspirasi untuk meningkatkan kualitas hidup, seperti menyekolahkan anak di sekolah yang baik, memiliki kendaraan, dan tempat tinggal yang layak.

Niharika melihat kelompok kedua ini sebagai potensi besar bagi industri asuransi. Kesadaran mereka yang semakin meningkat menjadikan asuransi sebagai solusi untuk mencapai tujuan finansial mereka.

"Itulah sebabnya perusahaan asuransi merancang produk dengan premi terjangkau, sehingga mereka dapat memperoleh manfaat perlindungan yang optimal," jelasnya.

Sebelumnya, Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa berdasarkan data Susenas Maret 2025, kelompok masyarakat kelas atas cenderung menahan konsumsi.

"Ini teramati dari data Susenas. Namun, hal ini tidak serta-merta berdampak pada angka kemiskinan, karena hanya terjadi pada kelompok atas. Fenomena Rojali belum tentu mencerminkan kemiskinan," kata Ateng.

Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk, David Sumual, menilai bahwa konsumsi masyarakat belum menunjukkan perbaikan, terbukti dari data per Juni lalu. Konsumsi kelas menengah atas belum pulih, padahal kelompok ini menyumbang 70% dari total konsumsi.

"Data menunjukkan bahwa konsumsi, terutama oleh kelompok menengah atas yang memiliki daya beli untuk barang tahan lama seperti mobil, motor, furnitur, pakaian, dan barang mewah, belum membaik. Kelompok inilah yang mendorong 70% konsumsi," kata David.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar