ANTAM Ukir Sejarah! Laba Q1-2026 Meroket 58%, Investor Siap Cuan?

Haluannews Ekonomi – PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) kembali membukukan kinerja keuangan yang impresif pada Triwulan Pertama Tahun 2026. Perusahaan tambang pelat merah ini berhasil mencatatkan pertumbuhan profitabilitas yang signifikan, meskipun dihadapkan pada gejolak ekonomi global yang masih dibayangi fluktuasi harga komoditas, eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

COLLABMEDIANET

Kinerja gemilang ANTAM didorong oleh fundamental operasional yang kokoh, terutama dari optimalisasi segmen nikel, penguatan strategi sourcing emas untuk menjaga kesinambungan pasokan, serta kontribusi awal dari beroperasinya pabrik smelter grade alumina (SGA) yang memperkuat pertumbuhan segmen bauksit dan alumina.

ANTAM Ukir Sejarah! Laba Q1-2026 Meroket 58%, Investor Siap Cuan?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pada kuartal pertama 2026 (1Q26), ANTAM mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp3,66 triliun, melonjak signifikan 58% dibandingkan Rp2,32 triliun pada periode yang sama tahun 2025 (1Q25). Tak kalah impresif, Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) ANTAM juga melesat 55%, mencapai Rp5,05 triliun di 1Q26, dari Rp3,26 triliun pada 1Q25.

Direktur Utama ANTAM, Untung Budiharto, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini tak lepas dari implementasi strategi pemasaran yang adaptif dan inovatif, serta disiplin ketat dalam pengendalian biaya di seluruh lini operasional perusahaan. "Capaian kinerja keuangan yang positif ini turut didukung oleh konsistensi perusahaan dalam menerapkan strategi pemasaran yang adaptif dan inovatif, serta pengendalian biaya yang efektif dan disiplin di seluruh lini operasional," ujar Untung, seperti dikutip Haluannews.id, Rabu (29/4/2026).

Peningkatan profitabilitas ANTAM di 1Q26 juga tercermin dari laba kotor yang tumbuh 54% menjadi Rp5,62 triliun, dibandingkan Rp3,64 triliun pada 1Q25. Sejalan dengan itu, laba usaha pada 1Q26 mencapai Rp4,50 triliun, melonjak 67% dari Rp2,69 triliun pada 1Q25. Kinerja ini turut ditopang oleh kenaikan penghasilan lain-lain sebesar 15% menjadi Rp279,60 miliar. Alhasil, laba bersih per saham dasar pun ikut terkerek 60% menjadi Rp141,77 per saham dasar, dari Rp88,69 per saham dasar pada 1Q25.

Kondisi Keuangan Makin Prima

Dari laporan posisi keuangan, ANTAM membukukan total aset sebesar Rp63,30 triliun pada 1Q26, melonjak 31% dari Rp48,30 triliun pada 1Q25. Kenaikan aset ini mengindikasikan ekspansi usaha serta penguatan kapasitas operasional dalam mendukung kinerja yang berkelanjutan.

Nilai ekuitas perusahaan juga menguat 17% menjadi Rp40,41 triliun, dari Rp34,62 triliun pada 1Q25. Sementara itu, posisi kas dan setara kas tercatat sebesar Rp9,04 triliun, naik 31% dari Rp6,92 triliun pada 1Q25, menunjukkan fleksibilitas finansial yang prima untuk mendukung kebutuhan operasional dan pengembangan bisnis.

"ANTAM terus berkomitmen menerapkan good mining practices dan operational excellence di seluruh aktivitas operasional guna mewujudkan bisnis yang berkelanjutan," tambah Untung.

Penjualan Domestik Jadi Tulang Punggung

Di ranah operasional, ANTAM juga menunjukkan performa produksi dan penjualan yang optimal. Penjualan bersih mencapai Rp29,32 triliun, tumbuh 12% dibandingkan Rp26,15 triliun pada 1Q25. Kontribusi penjualan domestik mendominasi dengan Rp28,31 triliun, atau setara 97% dari total penjualan bersih. Pertumbuhan ini menegaskan strategi perusahaan untuk memperkuat basis pelanggan dalam negeri, khususnya pada produk emas, bijih nikel, dan bijih bauksit.

"Implementasi strategi operasional yang tangguh serta manajemen keuangan yang disiplin dan prudent telah mendorong penguatan kinerja secara berkelanjutan, sehingga memberikan imbal hasil yang positif dan nilai tambah bagi para pemegang saham," imbuh Untung.

Pada 1Q26, segmen emas menjadi tulang punggung pendapatan, menyumbang sekitar 81% dari total penjualan, dengan nilai Rp23,89 triliun, naik 11% dari Rp21,61 triliun pada 1Q25. Melalui penguatan strategi pemasaran domestik, volume penjualan emas mencapai 8.464 kg (setara 272.124 troy oz.). Untuk menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku, ANTAM telah meneken Gold Sales dan Purchase Agreement (GSPA) dengan Merdeka Grup pada 4 Maret 2026. Kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat kedaulatan emas nasional sekaligus memastikan kesinambungan pasokan bagi industri domestik.

Segmen nikel (feronikel dan bijih nikel) berkontribusi sebesar 15% atau Rp4,47 triliun terhadap total penjualan pada 1Q26, meningkat 19% dari Rp3,77 triliun pada 1Q25. Produksi bijih nikel mencapai 3,88 juta wet metric ton (wmt), dengan volume penjualan sebesar 3,40 juta wmt yang seluruhnya diserap pasar domestik. Sementara itu, produksi feronikel tercatat sebesar 3.976 ton nikel dalam feronikel (TNi), dengan volume penjualan mencapai 2.803 TNi. Seluruh penjualan feronikel terserap oleh pasar ekspor.

Kontribusi segmen bauksit dan alumina sebesar 3% terhadap total penjualan dengan nilai Rp879,14 miliar, meningkat 24% dibandingkan Rp708,75 miliar pada 1Q25. Produksi bauksit mencapai 628.785 wmt, sejalan dengan optimalisasi kapasitas dan produktivitas tambang serta peningkatan serapan pasar domestik. Volume penjualan tercatat sebesar 593.476 wmt, naik 9% dari 544.750 wmt pada 1Q25. Sejalan dengan optimalisasi operasi pabrik Chemical Grade Alumina (CGA), produksi alumina mencapai 49.566 ton, meningkat 13% dibandingkan 44.051 ton pada 1Q25. Dari sisi penjualan, volume tercatat sebesar 49.072 ton, tumbuh 11% dari 44.048 ton.

"Dengan fondasi operasional yang solid dan kondisi keuangan yang sehat, Perusahaan optimistis menjaga momentum pertumbuhan serta menghadapi dinamika global melalui strategi yang terukur dan berkelanjutan," pungkas Untung.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar