haluannews.id – Pasar modal Indonesia bersiap menyambut gelombang baru emiten yang akan melakukan penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO) menjelang akhir tahun ini. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan bahwa terdapat tujuh perusahaan yang saat ini tengah mengantre untuk mencatatkan saham mereka di lantai bursa pada kuartal keempat tahun 2026.

Related Post
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, mengonfirmasi bahwa tujuh perusahaan tersebut kini telah masuk dalam daftar tunggu atau pipeline pencatatan saham. Menariknya, dari tujuh calon emiten tersebut, terdapat dua perusahaan yang memiliki profil aset sangat besar dengan nilai di atas Rp250 miliar. Selain itu, terdapat tiga perusahaan dengan skala aset menengah yang berkisar antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, serta dua perusahaan dengan skala aset di bawah Rp50 miliar.

Jika menilik sektor industrinya, para calon emiten ini berasal dari beragam bidang usaha. Sektor kesehatan menjadi yang paling dominan dengan empat perusahaan yang bersiap melantai. Disusul oleh sektor energi dengan dua perusahaan, dan satu perusahaan dari sektor industri. Hingga awal Oktober 2026, BEI sendiri telah mencatat tujuh perusahaan yang sukses melakukan IPO dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp2,16 triliun.
Meskipun ada optimisme dari deretan calon emiten baru, data menunjukkan adanya tren penurunan aktivitas IPO jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Berdasarkan data BEI, jumlah perusahaan yang melakukan IPO hingga Agustus 2026 mengalami kontraksi sebesar 68,2% dibandingkan periode Januari-Agustus 2025 yang mencapai 22 perusahaan. Penurunan ini juga berdampak pada perolehan dana, di mana penghimpunan dana anjlok sekitar 79,2% menjadi Rp2,16 triliun dari angka Rp10,39 triliun pada tahun lalu.
Menanggapi fenomena ini, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa ketidakpastian global menjadi salah satu pemicu utama. Dinamika geopolitik dunia yang tidak menentu membuat banyak perusahaan cenderung berhati-hati dalam menentukan momentum yang tepat untuk melakukan penawaran umum.
Hasan menegaskan bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak hanya berfokus pada kuantitas atau jumlah perusahaan yang melantai, melainkan lebih mengutamakan kualitas dan total penghimpunan dana. OJK sendiri memasang target ambisius untuk penghimpunan dana pasar modal sebesar Rp250 triliun pada tahun 2026. Hingga awal September 2026, capaian dana yang terkumpul telah menyentuh angka Rp148,3 triliun.
"Kami tetap mengedepankan kualitas keterbukaan informasi serta kesiapan calon emiten dalam mencapai target tersebut," ujar Hasan.
Walaupun jumlah IPO menurun, minat investor terhadap saham-saham baru sebenarnya masih terlihat cukup kuat. Beberapa saham yang baru melantai di tahun 2026 bahkan sempat mengalami lonjakan harga yang signifikan. Untuk terus mendorong pertumbuhan, BEI dan OJK berkomitmen melakukan sosialisasi serta coaching clinic ke berbagai daerah guna menjaring lebih banyak perusahaan potensial agar siap melantai di bursa.










Tinggalkan komentar