Strategi Besar BUVA Kejar Proyek Bali

Strategi Besar BUVA Kejar Proyek Bali

haluannews.id – Emiten pengelola hotel mewah, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), tengah bersiap melakukan langkah besar untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan. Perusahaan yang menaungi brand hotel Alila ini berencana menggelar aksi korporasi berupa penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) II atau rights issue dengan nilai fantastis mencapai Rp1,54 triliun.

COLLABMEDIANET

Dalam skema aksi korporasi ini, BUVA akan menawarkan sebanyak 6,15 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham. Harga pelaksanaan yang ditetapkan adalah Rp250 per saham, sehingga total dana yang ditargetkan untuk dihimpun mencapai Rp1.538.565.915.000. Langkah ini diproyeksikan akan menambah modal ditempatkan dan disetor penuh sebesar 20%.

Strategi Besar BUVA Kejar Proyek Bali
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menariknya, Hapsoro telah menyatakan kesiapannya untuk menjadi salah satu pembeli siaga. Peran pembeli siaga ini sangat krusial karena mereka bertugas menampung sisa saham yang tidak diambil oleh pemegang saham lama. Jika pemegang saham tidak menggunakan haknya, mereka berisiko mengalami dilusi kepemilikan hingga maksimal 20 persen.

Berdasarkan skema yang telah disusun, jika terdapat sisa saham setelah dialokasikan kepada pemegang hak yang memesan lebih, maka empat pembeli siaga wajib membeli sisa tersebut pada harga Rp250 per saham. Dalam surat pernyataan terbaru, para pembeli siaga menegaskan bahwa mereka memiliki kecukupan dana untuk menjalankan komitmen tersebut.

Jika skenario di mana pemegang saham lain tidak menebus haknya terjadi, maka komposisi kepemilikan akan berubah signifikan. Hapsoro diprediksi akan meningkatkan kepemilikannya dari 0,18% menjadi 1,44%. Selain itu, Ferry Sudjono juga akan mengalami kenaikan porsi kepemilikan menjadi 4,92%, sementara TTD naik menjadi 4,87%.

Lantas, untuk apa dana triliunan rupiah tersebut? Manajemen BUVA telah menyusun rencana penggunaan dana yang sangat spesifik. Sebagian besar dana akan dialokasikan untuk penyertaan modal di PT Bukit Bali Permai (BBP) guna pengembangan kawasan West Resort di Uluwatu, Bali, yang ditargetkan rampung pada akhir 2029.

Selain itu, perusahaan juga akan menggunakan Rp417,8 miliar untuk pelunasan dipercepat utang kepada Bank Mandiri. Dana lainnya akan digunakan untuk renovasi total Alila Ubud, pengembangan kawasan wisata di Lagoi, Bintan, serta pembangunan infrastruktur proyek Uluwatu Estate di Bali.

Meskipun sedang melakukan ekspansi besar, BUVA sempat menghadapi tantangan kinerja keuangan. Pada empat bulan pertama tahun 2026, perusahaan mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 1,96% menjadi Rp96,32 miliar. Penurunan ini dipengaruhi oleh faktor musiman dan situasi geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada tingkat hunian hotel.

Meski demikian, perusahaan tetap menunjukkan ketahanan dengan kenaikan rata-rata tarif kamar (average daily rate) sebesar 5,86% menjadi Rp5,44 juta. Dengan strategi rights issue ini, BUVA berharap dapat memperkuat fondasi keuangan untuk mendukung ambisi jangka panjangnya di sektor pariwisata mewah.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar