Rupiah Menguat Tipis di Tengah Tekanan Global

Rupiah Menguat Tipis di Tengah Tekanan Global

haluannews.id – Mata uang Garuda menunjukkan performa yang cukup stabil dalam perdagangan Selasa (6/10/2026). Meskipun sempat mengalami fluktuasi yang cukup tajam sepanjang hari, rupiah akhirnya berhasil menutup perdagangan di zona hijau terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan ini memberikan sedikit napas lega bagi pasar domestik di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi.

COLLABMEDIANET

Berdasarkan data yang dihimpun dari Refinitiv, nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp17.890 per dolar AS. Jika dibandingkan dengan penutupan pada perdagangan Senin (5/10/2026) yang berada di angka Rp17.895 per dolar AS, rupiah mencatatkan apresiasi tipis sebesar 0,03 persen. Meski angka penguatan ini tergolong kecil, keberhasilan rupiah bertahan di zona hijau tetap menjadi catatan penting bagi para pelaku pasar.

Rupiah Menguat Tipis di Tengah Tekanan Global
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Perjalanan rupiah pada perdagangan hari ini sebenarnya cukup dinamis dan penuh drama. Pada sesi pembukaan, rupiah sempat menunjukkan taringnya dengan melesat ke level Rp17.875 per dolar AS. Namun, momentum penguatan tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual sempat menekan mata uang nasional hingga merosot ke level Rp17.915 per dolar AS. Beruntung, tekanan tersebut mampu diredam sehingga rupiah kembali bangkit dan menutup hari dengan posisi yang lebih baik.

Di sisi lain, pelemahan dolar AS menjadi faktor pendukung utama bagi penguatan rupiah. Indeks dolar AS (DXY), yang menjadi barometer kekuatan mata uang greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau melemah 0,12 persen ke posisi 102,049 pada pukul 15.00 WIB. Sebelumnya, indeks dolar sempat menyentuh level tertinggi di angka 102,285 sebelum akhirnya terkoreksi.

Melemahnya dolar AS ini dipicu oleh meredanya ekspektasi pasar terkait kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Laporan data tenaga kerja AS untuk periode September menunjukkan adanya tanda-tanda pelemahan pada pasar kerja. Kondisi ini membuat pelaku pasar mulai meragukan kemungkinan adanya kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan Oktober mendatang, yang kemudian mendorong penurunan nilai dolar.

Selain faktor suku bunga, sentimen dari pasar komoditas, khususnya minyak mentah, turut memberikan dampak positif bagi stabilitas rupiah. Harga minyak dunia mengalami penurunan seiring dengan membaiknya pasokan dari Timur Tengah serta langkah negara-negara G7 yang melepas cadangan darurat mereka. Harga minyak Brent tercatat turun sekitar 0,8 persen ke level US$99,49 per barel, sementara WTI terkoreksi 1,1 persen ke posisi US$88,43 per barel.

Bagi Indonesia, tren penurunan harga minyak dunia merupakan kabar baik. Sebagai negara yang masih mengandalkan impor energi, harga minyak yang lebih rendah dapat menekan nilai impor energi nasional. Hal ini secara otomatis akan mengurangi kebutuhan akan dolar AS untuk membiayai transaksi impor, sehingga beban terhadap nilai tukar rupiah dapat berkurang.

Menatap perdagangan esok hari, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada rilis data cadangan devisa Indonesia periode September yang akan diumumkan oleh Bank Indonesia (BI). Data ini sangat krusial karena menjadi indikator utama ketahanan ekonomi eksternal Indonesia serta menunjukkan seberapa kuat bantalan yang dimiliki BI untuk menjaga stabilitas rupiah jika terjadi volatilitas pasar global yang ekstrem.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar