Haluannews Ekonomi – Jauh sebelum era modern tambang raksasa, bumi Banten pernah menyimpan "harta karun" emas yang nilainya tak terhingga. Di wilayah Cikotok, sebuah catatan sejarah mengungkap penemuan emas fantastis, diperkirakan mencapai 30.000 hingga 61.000 ton. Namun, kekayaan alam melimpah ini justru menjadi kisah tragis eksploitasi kolonial yang hanya menguntungkan segelintir pihak, meninggalkan jejak pahit bagi kesejahteraan pribumi.

Related Post
Desas-desus mengenai potensi emas di selatan Batavia, tepatnya di Cikotok, Banten, sudah lama beredar di kalangan pemerintah kolonial Belanda. Berjarak sekitar 200 kilometer dari pusat kota, wilayah ini memicu ketertarikan besar karena prospek keuntungan ekonominya yang luar biasa. Untuk membuktikan kebenaran kabar tersebut, ekspedisi geologi besar-besaran pun dilancarkan pada tahun 1919, dipimpin oleh peneliti Belanda W.F.F Oppenoorth.

Setelah penelusuran hutan dan pembukaan jalur yang memakan waktu serta biaya, Oppenoorth akhirnya mengonfirmasi keberadaan cadangan emas yang melimpah di Cikotok. Penambangan skala besar memerlukan pembangunan infrastruktur masif. Hingga tahun 1928, setidaknya 25 terowongan berhasil dibangun, membelah perbukitan terjal dan lembah sempit. "Sebanyak kurang lebih 25 terowongan kini telah dibangun, hanya sebagian yang memiliki kedalaman tidak lebih dari 135 meter," demikian dilaporkan harian Sumatra-bode pada 2 Maret 1928. Investasi awal yang digelontorkan pemerintah kolonial tidak sedikit, mencapai 80.000 gulden per tahun, sebuah angka fantastis yang setara miliaran rupiah saat ini.
Puncak penemuan terjadi pada Maret 1928, ketika cadangan emas 30.000 ton di Cikotok berhasil diidentifikasi. Angka ini kemudian bahkan disebut-sebut mencapai lebih dari 61.000 ton pada tahun 1933, dengan nilai estimasi 3,68 miliar gulden, seperti yang dicatat de Locomotief pada 29 Maret 1933. Setelah temuan spektakuler ini, hak operasional diberikan kepada NV Mijnbouw Maatchappij Zuid Bantam. Penambangan pun dilakukan secara masif, didukung pembangunan akses baru dari Rangkasbitung dan Pelabuhan Ratu, serta pabrik pengolahan berkapasitas 20 ton per hari, meskipun kapasitas ini masih belum mampu menampung seluruh hasil eksploitasi yang melimpah.
Namun, di balik gemerlapnya angka dan keuntungan yang mengalir deras ke kas pemerintah kolonial, terdapat ironi yang mendalam. Kekayaan emas Cikotok hanya menciptakan kemakmuran semu. Para penduduk pribumi, yang menjadi tulang punggung pekerjaan tambang, justru tidak merasakan sedikit pun kesejahteraan. Janji-janji kemakmuran bagi pribumi hanyalah isapan jempol, sementara emas terus dikeruk dan dikirim ke luar negeri, memperkaya penjajah.
Setelah kemerdekaan, tambang emas Cikotok diambil alih oleh NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan, sebelum kemudian dikelola oleh PT Aneka Tambang pada tahun 1974. Namun, setiap sumber daya alam memiliki batasnya. Riwayat kejayaan tambang emas Cikotok harus berakhir pada tahun 2005, ketika kandungan emasnya dinyatakan habis. Meskipun demikian, warisan Cikotok sebagai tambang emas raksasa di Indonesia diteruskan oleh tambang-tambang lain yang lebih besar, seperti Freeport di Papua, yang kini menjadi ikon pertambangan emas nasional.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar