Haluannews Ekonomi – Tahun 2026 diprediksi akan menjadi periode yang sangat menantang bagi industri nikel di Indonesia. Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, mengungkapkan bahwa sektor ini menghadapi tantangan berlapis yang signifikan, mulai dari tekanan pembiayaan, lonjakan biaya produksi, hingga regulasi domestik yang membatasi.

Related Post
Menurut Arif, gejolak geopolitik global menjadi pemicu utama perubahan struktur biaya operasional. Konflik internasional telah memicu kenaikan signifikan harga energi, yang secara langsung membebani biaya produksi bagi para pelaku industri nikel. Lebih lanjut, smelter nikel jenis HPAL (High Pressure Acid Leaching), yang vital untuk produksi nikel kelas baterai, sangat bergantung pada bahan baku pendukung seperti sulfur, yang harganya juga melonjak tajam di pasar global akibat dinamika geopolitik tersebut.

Tidak hanya dari eksternal, tekanan juga datang dari dalam negeri. Arif menyoroti kebijakan pemerintah terkait kenaikan tarif royalti nikel yang menambah beban finansial. Selain itu, pemangkasan produksi melalui kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) turut membatasi kapasitas operasional dan potensi pertumbuhan industri. Kebijakan ini, meskipun mungkin memiliki tujuan strategis, secara langsung meningkatkan ongkos operasional dan membatasi fleksibilitas bagi para pelaku usaha.
Kombinasi tantangan global dan domestik ini menciptakan situasi yang kompleks bagi seluruh rantai nilai industri nikel, baik bagi penambang maupun fasilitas pengolahan atau smelter. Industri dituntut untuk beradaptasi dengan kondisi pasar yang volatil dan regulasi yang dinamis, sambil tetap menjaga daya saing di kancah internasional.
Diskusi mendalam mengenai prospek dan tantangan industri nikel ini disampaikan oleh Arif Perdana Kusumah dalam dialognya dengan Serliana Salsabila di program Closing Bell, Haluannews.id, pada Jumat, 29 Mei 2026.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar