haluannews.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kini tengah menyusun strategi khusus guna memastikan program ambisius "Satu Orang Satu Rekening" tidak menjadi sia-sia. Fokus utama lembaga pengawas keuangan ini adalah mencegah rekening-rekening baru, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah dan pelajar, berubah menjadi rekening pasif atau dormant.

Related Post
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa rekening yang tidak aktif menyimpan risiko keamanan yang sangat besar. Menurutnya, rekening yang dibiarkan menganggur tanpa pengawasan pemiliknya sangat rentan disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk berbagai aktivitas kriminal keuangan.

"Kekhawatiran utama kami adalah rekening tersebut menjadi dormant. Jika rekening tidak digunakan, pemiliknya bisa lupa, dan jika PIN atau data aksesnya jatuh ke tangan orang lain, rekening tersebut bisa disalahgunakan untuk pinjaman online (pinjol) ilegal hingga aktivitas judi online," ujar Friderica di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Untuk memitigasi risiko tersebut, OJK tidak hanya sekadar mendorong pembukaan rekening, tetapi juga mengedepankan edukasi berkelanjutan. Salah satu langkah konkretnya adalah melalui optimalisasi program Simpanan Pelajar (SimPel). OJK mencatat bahwa saat ini sekitar 88 persen pelajar di Indonesia sudah memiliki rekening tabungan. Namun, tantangan terbesarnya adalah menjaga agar tabungan tersebut tetap aktif dan memberikan manfaat nyata bagi masa depan mereka.
OJK merancang skema pendampingan keuangan yang berjenjang sesuai usia. Sebagai contoh, ketika seorang pelajar tumbuh menjadi dewasa, mereka diarahkan untuk beralih dari produk SimPel ke Simpanan Pemuda (SiMuda). Melalui SiMuda, generasi muda diharapkan mulai belajar mengelola keuangan secara lebih kompleks, seperti menyisihkan dana untuk investasi reksa dana hingga persiapan membeli properti di masa depan.
"Harapannya, tabungan ini bisa mendampingi mereka sejak masa sekolah hingga dewasa. Itulah mengapa bimbingan sangat diperlukan agar rekening ini tidak sekadar dibuka, lalu ditinggalkan," tambah Friderica.
Program Satu Orang Satu Rekening ini merupakan inisiatif besar pemerintah dengan dukungan anggaran mencapai Rp1,28 triliun. Melalui program ini, pemerintah memberikan subsidi setoran awal sebesar Rp50.000 bagi masyarakat yang memenuhi kriteria.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa target utama program ini adalah mendongkrak angka inklusi keuangan nasional dari 93 persen menuju angka 99 persen. Program ini menyasar sekitar 25 juta warga berusia di atas 17 tahun yang berada dalam kelompok ekonomi desil 1 hingga 4.
Proses pendataan calon penerima manfaat akan dilakukan secara terintegrasi oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) bersama perbankan syariah lainnya. Pendataan ini akan mengacu pada sinkronisasi data kependudukan serta data kesejahteraan sosial untuk memastikan bantuan tepat sasaran. Dengan skema ini, masyarakat yang masuk dalam kategori tersebut dapat memiliki akses perbankan tanpa harus terbebani biaya setoran awal.










Tinggalkan komentar