Haluannews Ekonomi – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, kembali memicu sentimen negatif di pasar keuangan global. Kekhawatiran akan lonjakan harga minyak dunia, disrupsi rantai pasok logistik, hingga potensi inflasi yang merajalela dan perlambatan ekonomi global, kini menjadi ancaman nyata yang membayangi prospek perekonomian banyak negara, termasuk Indonesia.

Related Post
Dampak dari gejolak ini telah mulai terasa di pasar domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau terus mengalami koreksi, mencerminkan kehati-hatian investor. Sementara itu, pasar obligasi juga menunjukkan tekanan, dengan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang melonjak signifikan dari 6,4% menjadi 6,7%. Tidak ketinggalan, nilai tukar Rupiah juga tertekan, mendekati level psikologis Rp 17.000 per Dolar AS, sebuah indikator yang perlu dicermati oleh otoritas moneter.

Menurut Guntur Putra, CEO Pinnacle Investment, gejolak pasar ini merupakan akumulasi dari tekanan eksternal, seperti eskalasi konflik Iran-AS, dan faktor internal, termasuk sorotan lembaga pemeringkat global seperti MSCI dan Fitch Ratings terhadap prospek ekonomi dan pasar modal Indonesia. "Koreksi yang terjadi di pasar keuangan, khususnya IHSG, pasar obligasi, dan Rupiah, tidak lepas dari kombinasi isu geopolitik global dan penilaian lembaga rating terhadap fundamental ekonomi kita," jelas Guntur.
Jika skenario terburuk terjadi dan harga minyak mentah global benar-benar meroket hingga USD 120 per barel, dampaknya terhadap perekonomian Indonesia diperkirakan akan sangat signifikan. Lonjakan harga minyak akan memicu kenaikan biaya produksi di berbagai sektor industri, yang pada gilirannya akan mendorong harga barang dan jasa naik, memicu inflasi yang berpotensi menekan daya beli masyarakat secara luas. Selain itu, gangguan pada rantai pasok global akibat konflik juga akan memperparah tekanan inflasi dan menghambat aktivitas ekonomi.
Pelaku pasar dan pemerintah dituntut untuk terus mencermati perkembangan situasi ini dengan seksama. Dalam dialognya di Squawk Box Haluannews.id, Guntur Putra menekankan perlunya kewaspadaan tinggi dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan yang dipicu oleh ketegangan geopolitik dan tantangan domestik yang ada. Kesiapan strategi mitigasi risiko menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar