Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan hari ini, Rabu (29/4/2026), dengan performa positif, mengakhiri sesi di zona hijau. Bursa saham domestik mencatatkan penguatan signifikan sebesar 0,41% atau setara 28,83 poin, membawa IHSG bertengger di level 7.101,22. Kenaikan ini terjadi di tengah sorotan tajam pelaku pasar terhadap serangkaian sentimen makroekonomi dan geopolitik global yang berpotensi memengaruhi arah pasar keuangan.

Related Post
Pergerakan positif IHSG disokong oleh performa mayoritas saham, di mana 379 emiten berhasil membukukan kenaikan harga, sementara 282 saham melemah dan 154 lainnya stagnan. Aktivitas perdagangan terpantau cukup ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp 17,22 triliun. Sebanyak 42,97 miliar saham berpindah tangan dalam 2,45 juta kali transaksi, mendorong kapitalisasi pasar naik menjadi Rp 12.663 triliun.

Sektor-sektor yang menjadi pendorong utama penguatan IHSG meliputi infrastruktur, konsumer primer, dan industri, mencerminkan optimisme investor terhadap sektor-sektor fundamental ini. Sebaliknya, sektor teknologi dan barang baku menjadi segmen yang terkoreksi pada hari ini. Beberapa saham unggulan yang menjadi katalis positif bagi IHSG antara lain TLKM, IMPC, APIC, GOTO, dan SMMA. Namun, laju penguatan IHSG sedikit tertahan oleh tekanan dari saham-saham seperti TPIA, DSSA, MORA, dan BRPT.
Memasuki perdagangan Rabu ini, fokus utama pelaku pasar keuangan Tanah Air tertuju pada sejumlah perkembangan penting di kancah internasional. Dinamika negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, fluktuasi harga minyak dunia, keputusan kebijakan moneter dari Bank Sentral Jepang (BOJ), serta hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Federal Reserve menjadi agenda utama yang dicermati.
Dari Washington, Presiden AS Donald Trump dilaporkan menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal terbaru yang diajukan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sekitar dua bulan. Proposal Iran yang mengusulkan penundaan pembahasan program nuklir hingga perang usai dan isu jalur pelayaran di Teluk terselesaikan, dinilai sulit diterima oleh AS. Washington bersikeras bahwa isu nuklir Iran harus menjadi bagian integral dari proses negosiasi sejak awal. Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya mengonfirmasi bahwa Gedung Putih tidak akan bernegosiasi melalui media dan telah menetapkan "garis merah" yang jelas.
Sentimen besar berikutnya datang dari bank sentral AS. The Federal Reserve tengah menggelar rapat FOMC selama dua hari, yakni Selasa-Rabu (28-29 April 2026). Keputusan mengenai suku bunga acuan The Fed akan diumumkan pada Rabu malam waktu AS, atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Agenda ini memiliki implikasi signifikan bagi pasar global, karena akan menentukan arah dolar AS, yield obligasi AS, serta selera risiko investor terhadap aset-aset di negara berkembang.
Berdasarkan pantauan CME FedWatch Tool, pasar secara penuh memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya. Probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga di level saat ini, yakni 3,50%-3,75%, tercatat mencapai 100% untuk FOMC April ini. Ekspektasi ini menguat mengingat tingkat inflasi AS yang masih berada di atas target bank sentral, diperparah oleh lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah yang membatasi ruang gerak The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi mengumumkan keluar dari keanggotaan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Selasa. Keputusan ini, yang diumumkan pada Selasa, dinilai berpotensi melemahkan pengaruh OPEC di kancah global sekaligus memperlebar jurang perbedaan antara Abu Dhabi dan Riyadh, yang selama ini dikenal sebagai pemimpin de facto kartel minyak tersebut.
Keluarnya UEA dari OPEC membuka peluang bagi negara tersebut untuk meningkatkan produksi minyaknya saat jalur ekspor Teluk kembali normal, karena tidak lagi terikat oleh kuota produksi OPEC. Menteri Energi UEA, Suhail Al Mazrouei, menyebut keputusan ini diambil setelah meninjau strategi energi nasional dan kebutuhan energi global di masa depan. Analis memprediksi langkah ini berpotensi menekan harga minyak dalam jangka menengah, mengingat UEA memiliki kapasitas produksi cadangan yang besar, salah satu yang terbesar setelah Arab Saudi. Jika UEA memompa lebih banyak minyak, dominasi Riyadh dalam menjaga keseimbangan pasar global bisa mulai terganggu. Keputusan ini juga semakin menegaskan rivalitas yang kian terbuka antara UEA dan Arab Saudi, mulai dari kebijakan minyak hingga perebutan investasi dan pengaruh di kawasan Teluk.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar