Haluannews Ekonomi – Direktur Insight Investments Management, Camar Remoa, menilai langkah The Fed menurunkan suku bunga acuan (FFR) ke level 3,50-3,75% merupakan katalis positif yang signifikan bagi pasar keuangan Indonesia. Kebijakan moneter yang lebih akomodatif dari bank sentral Amerika Serikat ini diharapkan menjadi pemicu utama pergerakan pasar di Tanah Air.

Related Post
Bagi Indonesia, kebijakan The Fed ini diprediksi akan memicu kembalinya arus modal asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Fenomena ini berpotensi memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah, menekan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), dan secara signifikan mendorong penguatan di pasar saham. Investor asing yang mencari imbal hasil lebih tinggi di tengah penurunan suku bunga global akan kembali melirik aset-aset berisiko di Indonesia.

Menatap akhir tahun 2025 hingga awal 2026, Camar Remoa optimis pergerakan pasar keuangan RI akan semakin prospektif. Dengan asumsi aliran modal asing terus berlanjut dan kondisi ekonomi domestik yang kondusif, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki potensi kuat untuk menembus level psikologis 9.000. Sektor-sektor yang diperkirakan akan menjadi lokomotif penguatan ini antara lain perbankan, konsumer, dan properti. Sektor perbankan diuntungkan dari potensi pertumbuhan kredit dan NIM yang stabil, sektor konsumer dari peningkatan daya beli masyarakat, dan properti dari biaya pinjaman yang lebih rendah serta stimulus pembangunan.
Pandangan optimis ini disampaikan Camar Remoa dalam dialog eksklusif bersama Andi Shalini di program Power Lunch, Haluannews.id, pada Kamis (12/12/2025).
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar