haluannews.id – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) baru-baru ini membeberkan sejumlah kriteria fundamental bagi sektor-sektor yang dianggap layak menerima suntikan investasi. Fokus utama mereka adalah mengarahkan modal ke bidang-bidang yang menjanjikan prospek pertumbuhan cemerlang serta potensi keuntungan signifikan di masa mendatang.

Related Post
Pahala Nugraha Mansury, Managing Director Global Relations & Communications BPI Danantara, menjelaskan bahwa sektor yang dibidik haruslah dinamis, menunjukkan pertumbuhan konsisten, dan memiliki kapabilitas untuk terus berkembang. "Kami mencari sektor yang sehat, mampu menghasilkan profitabilitas optimal, dan tentu saja, memiliki proyeksi pertumbuhan jangka panjang yang kuat," ungkap Pahala kepada haluannews.id.

Dengan pertimbangan tersebut, Danantara memprioritaskan investasi pada sektor yang tidak hanya sehat secara fundamental, tetapi juga sanggup memberikan tingkat pengembalian modal (rate of return) yang kompetitif secara komersial. Lebih dari sekadar profit, Pahala menekankan bahwa investasi pada sektor strategis juga harus mampu menjadi motor penggerak akselerasi ekonomi Indonesia.
Sebagai langkah konkret, Danantara telah menjalin kemitraan strategis dengan JBS Group, produsen protein terkemuka dunia. Dana investasi yang digelontorkan nantinya akan difokuskan untuk memperluas dan meningkatkan kapasitas produksi di Indonesia. "Ini adalah langkah yang sangat positif, karena kami dapat mendatangkan keahlian dan teknologi global untuk mengembangkan kapasitas produksi protein hewani di Indonesia, sekaligus memastikan tingkat pengembalian investasi yang menguntungkan secara komersial," jelas Pahala.
Lebih lanjut, Pahala menguraikan beberapa alasan kuat di balik keputusan Danantara untuk mengembangkan industri pangan, khususnya sektor protein. Pertama, sektor pangan adalah kebutuhan esensial yang permintaannya terus meningkat seiring pertumbuhan populasi. Dengan sekitar 280 juta penduduk di Indonesia dan hampir 800 juta di Asia Tenggara, potensi pasar sangat besar.
Kedua, konsumsi protein per kapita di Indonesia masih jauh tertinggal, sekitar 40% di bawah rata-rata negara maju. Dengan target pertumbuhan ekonomi 8% dan peningkatan kesadaran akan gizi, permintaan terhadap bahan pangan berbasis protein diproyeksikan melonjak drastis. Ketiga, dinamika geopolitik global menjadikan ketahanan rantai pasok pangan sebagai isu krusial yang tak bisa diabaikan.
Atas dasar pertimbangan tersebut, Danantara menggandeng JBS Group yang dinilai memiliki skala teknologi dan kapabilitas tak tertandingi dalam industri protein. Kemitraan ini membidik berbagai sumber protein hewani, mulai dari sapi, ikan, ayam, dan lainnya. "JBS, yang berasal dari Brasil namun terdaftar di Amerika, saat ini mengoperasikan aset dengan pangsa pasar dominan di Australia, mencapai 45% hingga 50%. Ini menjadikan mereka mitra yang sangat potensial," terang Pahala.
Danantara meyakini, keahlian JBS Group akan sangat mendukung pengembangan dan penguatan rantai pasok pangan regional, termasuk protein di Indonesia. "Kami melihat JBS sebagai pemain kunci yang sangat tertarik untuk mengoptimalkan pertumbuhan mereka, tidak hanya di Australia tetapi juga di Indonesia sebagai salah satu pasar terbesar yang berdekatan. Ini adalah bagian dari strategi rantai pasok pangan global yang paling tidak rentan terhadap kondisi geopolitik," pungkasnya.
Untuk mewujudkan ambisi ini, Danantara dan JBS Group masing-masing akan mengucurkan dana sebesar 2,5 miliar dolar AS, sehingga total investasi mencapai 5 miliar dolar AS. Dana jumbo ini akan difokuskan untuk pengembangan bisnis protein di Indonesia dalam dua tahun pertama.










Tinggalkan komentar