Terungkap Cara Danantara Selamatkan BUMN

Terungkap Cara Danantara Selamatkan BUMN

haluannews.id – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) kini tengah menggulirkan sebuah langkah revolusioner untuk merombak fundamental Badan Usaha Milik Negara (BUMN), termasuk raksasa telekomunikasi PT Telkom Indonesia (Persero). Perombakan besar-besaran ini bertujuan utama memulihkan kondisi finansial BUMN yang selama ini terbebani berbagai inefisiensi.

COLLABMEDIANET

Chief Operating Officer BPI Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa transformasi ini melibatkan perubahan mendasar pada model bisnis Telkom, menjadikannya sebuah induk strategis. Dony menyoroti bagaimana struktur lama menciptakan biaya yang membengkak secara tidak wajar.

Terungkap Cara Danantara Selamatkan BUMN
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sebagai contoh, Dony menjelaskan dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan haluannews.id baru-baru ini, proses pemasangan serat optik Indihome sebelumnya harus melalui serangkaian entitas. Mulai dari Telkom Induk, kemudian menunjuk PT Infrastruktur Telekomunikasi Indonesia (Telkominfra), yang lalu menunjuk anak perusahaan lain untuk mendesain, sebelum akhirnya diserahkan ke PT Telkom Akses. "Ini membuat biayanya 150% lebih mahal daripada kompetitor karena setiap perusahaan mengambil margin dari dirinya sendiri," terang Dony. Ia menambahkan, penghapusan rantai birokrasi dan margin ganda ini berpotensi menghemat total Rp30 triliun dalam ekosistem BUMN.

Dony juga menegaskan mandat Danantara sebagai penggerak utama roda ekonomi nasional. Berbeda dengan dana abadi negara di banyak negara lain yang berinvestasi dari surplus anggaran, sumber dana investasi Danantara justru berasal dari hasil pengelolaan BUMN itu sendiri. Oleh karena itu, kesehatan dan kinerja perusahaan negara menjadi inti penentu eksistensi jangka panjang Danantara.

Sebelum kehadiran Danantara, Dony memaparkan, perusahaan-perusahaan BUMN beroperasi secara terpisah dan tidak terintegrasi. Masing-masing entitas membentuk konglomerasi internal serta anak-anak perusahaan sendiri, bahkan untuk bidang bisnis yang melenceng dari fokus kompetensi utamanya. Kondisi ini menyebabkan minimnya koordinasi dan kesulitan bagi satu BUMN untuk saling menopang saat BUMN lain menghadapi masalah.

Setelah semua perusahaan negara ditempatkan dalam satu ekosistem Danantara, identifikasi komprehensif pun digulirkan. Hasil pendataan awal sungguh mengejutkan: ditemukan 1.074 entitas dalam ekosistem BUMN. Dari jumlah tersebut, lebih dari separuh atau sekitar 52% menderita kerugian. Akumulasi defisit langsung dari perusahaan-perusahaan yang merugi ini mencapai angka fantastis Rp20 triliun, sebuah masalah serius yang kini menjadi fokus Danantara untuk dibenahi.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar