haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak mampu melanjutkan euforia penguatan sebelumnya. Pada perdagangan Jumat 4 September 2026, bursa saham domestik justru terpeleset tipis, mengakhiri sesi pertama dengan penurunan 0,11% ke level 6.660,79. Penurunan ini memupus harapan investor yang sempat menyaksikan lonjakan signifikan sehari sebelumnya.

Related Post
Pergerakan IHSG hari ini dimulai dari posisi 6.695,69. Sepanjang sesi, indeks sempat menyentuh puncak 6.704,13 sebelum tergelincir ke titik terendah 6.637,48. Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan, mayoritas saham bergerak lesu. Sebanyak 325 saham tercatat melemah, mengungguli 266 saham yang berhasil menguat, sementara 196 saham lainnya stagnan tanpa perubahan harga.

Aktivitas perdagangan pada paruh pertama hari ini mencatatkan volume 1,02 miliar saham, dengan total nilai transaksi yang berputar mencapai sekitar Rp529 miliar. Angka ini kontras dengan performa Kamis 3 September 2026, di mana IHSG melesat 1,09% ke 6.667,89, didorong oleh derasnya aliran dana asing yang mencapai Rp1,07 triliun serta penguatan saham-saham berkapitalisasi besar.
Sektor-sektor perdagangan mayoritas menunjukkan pelemahan, dengan sektor konsumer, kesehatan, industri, dan teknologi menjadi penyumbang koreksi terdalam. Di sisi lain, sektor energi menjadi satu-satunya yang mampu mencatatkan kenaikan signifikan, memberikan sedikit angin segar di tengah tekanan jual. Beberapa emiten besar seperti ASII, SRAJ, VKTR, BRMS, dan INDF turut menjadi pemberat utama laju IHSG pada sesi ini.
Meskipun demikian, sejumlah katalis positif dari dalam negeri dan perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat sebenarnya diharapkan dapat menopang penguatan IHSG. Dari ranah domestik, kebijakan relaksasi likuiditas Bank Indonesia (BI) menjadi sorotan. BI telah meningkatkan insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) menjadi 6% mulai September, dengan total insentif yang diterima perbankan mencapai Rp446,5 triliun. Langkah ini bertujuan mendorong penyaluran kredit, khususnya ke sektor riil dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Selain itu, insentif pajak atas bunga Surat Berharga Negara (SBN) valuta asing juga menjadi sentimen positif. Pemerintah juga memberikan jaminan bahwa pembiayaan program Koperasi Desa Merah Putih tidak akan menimbulkan kredit bermasalah bagi perbankan, menambah kepercayaan pasar.
Dari kancah global, perhatian investor tertuju pada rilis data tenaga kerja Amerika Serikat malam nanti, meliputi nonfarm payrolls (NFP), tingkat pengangguran, dan pertumbuhan upah. Data ini krusial sebagai penentu arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Pernyataan Gubernur The Fed Christopher Waller yang cenderung mendukung mempertahankan suku bunga pada level saat ini di bulan September, asalkan data inflasi tidak mengejutkan, memberikan harapan. Namun, pasar tetap perlu mewaspadai jika data tenaga kerja terlalu kuat, karena berpotensi mempertahankan tekanan inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Data ekonomi AS terbaru menunjukkan klaim pengangguran yang rendah dan sektor jasa yang menguat (ISM Services PMI mencapai 55,4 pada Agustus), namun diiringi peningkatan tekanan harga, memberikan sinyal yang campur aduk bagi The Fed.










Tinggalkan komentar