Terungkap! 7 Kebiasaan Belanja Kelas Menengah yang Jauhkan dari Kaya

Terungkap! 7 Kebiasaan Belanja Kelas Menengah yang Jauhkan dari Kaya

Haluannews Ekonomi – Aspirasi untuk mencapai kemapanan finansial dan kekayaan adalah impian universal. Namun, realitas ekonomi menunjukkan mayoritas masyarakat Indonesia masih berkutat di segmen kelas menengah, bukan golongan super kaya. Fenomena ini bukan tanpa alasan; studi mendalam mengindikasikan bahwa pola perilaku finansial tertentu pada kelompok kelas menengah justru menjadi penghambat utama akselerasi menuju kemandirian finansial.

COLLABMEDIANET

Salah satu faktor krusial yang membedakan adalah cara mereka mengelola pengeluaran. Kelompok kelas menengah seringkali terjepit di antara tuntutan pemenuhan kebutuhan dasar dan keinginan untuk menikmati gaya hidup yang nyaman. Di satu sisi, mereka mampu menikmati kemewahan sesekali seperti bersantap di restoran atau berlibur. Namun di sisi lain, upaya menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan atau investasi seringkali belum optimal.

Terungkap! 7 Kebiasaan Belanja Kelas Menengah yang Jauhkan dari Kaya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Zach Larsen, CEO Pineapple Money, menilai kondisi ini menempatkan kelas menengah dalam posisi dilematis, yakni menjaga keseimbangan antara kualitas hidup yang layak dan stabilitas finansial jangka panjang. "Prioritas utama mereka seringkali meliputi kepemilikan hunian yang layak, kendaraan yang andal, dan pendidikan anak. Tabungan pensiun serta asuransi juga menjadi fokus," ungkap Zach, seperti dikutip dari Yahoo Finance.

Menariknya, sebuah laporan dari Business Insider yang dikutip Haluannews.id menggarisbawahi perbedaan signifikan dalam respons terhadap pemasukan tambahan. Mayoritas responden dari kelas menengah berencana menabung uang ekstra tersebut. Sebaliknya, kelompok berpenghasilan rendah cenderung memilih melunasi kewajiban utang, sementara golongan kaya lebih suka mengalihkannya ke instrumen investasi.

Lantas, apa saja pola pengeluaran yang membedakan mereka? Berikut tujuh kebiasaan belanja khas kelas menengah yang jarang ditemui pada golongan super kaya, sebagaimana diulas dari Yahoo Finance:

1. Terjerat Cicilan Konsumtif
Banyak individu di kelas menengah seringkali terjerat dalam beban utang konsumtif, mulai dari cicilan rumah, kredit kendaraan, hingga pinjaman pendidikan. Berbeda dengan orang kaya yang memanfaatkan utang sebagai leverage untuk membeli aset produktif seperti properti investasi, kelas menengah kerap membeli aset-aset konsumtif melalui skema kredit. "Kendaraan mahal, barang mewah, atau kebutuhan non-esensial sering kali dibeli dengan utang," kata pakar keuangan Jacquesdu Toit.

2. Obsesi Gadget Terbaru dan Tren
Kelas menengah memiliki daya tarik kuat terhadap produk bermerek non-luxury, seperti gawai elektronik terbaru, pakaian, atau peralatan rumah tangga kelas menengah. Mereka seringkali terjebak dalam pusaran tren dan keinginan untuk selalu mengikuti perkembangan, bahkan jika harus berutang. "Kadang mereka terjebak keinginan untuk selalu mengikuti tren, meski harus berutang," ujar Whaley.

3. Investasi Pendidikan yang Belum Tentu Optimal
Investasi masif dalam pendidikan menjadi prioritas utama bagi kelas menengah, baik untuk sekolah swasta berkualitas maupun jenjang perguruan tinggi. Rob Whaley dari Horizon Finance Group menyebut pendidikan sebagai jalur utama mobilitas sosial-ekonomi. Namun, Toit mengingatkan bahwa investasi ini dapat menjadi bumerang jika tidak selaras dengan minat atau prospek karier yang menjanjikan. "Misalnya mengambil jurusan seni murni memang mengikuti passion, tapi belum tentu menjamin pendapatan stabil," jelasnya.

4. Properti di Pinggiran Kota sebagai Simbol Status
Kepemilikan hunian seringkali menjadi simbol status dan pos pengeluaran signifikan lainnya. Marc Afzal, CEO Sell Quick California, menjelaskan bahwa kelas menengah umumnya memilih properti di pinggiran kota demi ruang gerak dan kenyamanan yang lebih luas. Ini berbeda dengan orang kaya yang memiliki portofolio properti premium di berbagai lokasi, atau kalangan bawah yang lebih sering memilih opsi sewa.

5. Kendaraan Mewah dengan Skema Cicilan Panjang
Menurut Mary Vallieu, seorang money coach, banyak keluarga kelas menengah membeli mobil seharga Rp800 juta hingga Rp1 miliar dengan skema cicilan tujuh atau delapan tahun. Sementara itu, kalangan kaya cenderung membeli kendaraan secara tunai, dan kelompok berpenghasilan rendah umumnya menggunakan mobil bekas atau hibah keluarga.

6. Paket Wisata Ekonomis, Bukan Eksklusif
Alih-alih menikmati liburan eksklusif ala orang kaya, kelas menengah memilih paket wisata yang menawarkan pengalaman optimal dengan biaya terjangkau. Konser, acara hiburan, dan perjalanan menjadi bagian dari pengeluaran rutin mereka, yang meskipun memberikan pengalaman, jarang menjadi investasi jangka panjang.

7. Peralatan Dapur dan Gawai Premium (Bukan Terbaik)
Kelas menengah cenderung membeli versi lebih baik dari kebutuhan dasar, seperti ponsel pintar mahal atau peralatan dapur premium. "Mereka tak selalu memilih barang terbaik, tapi tetap ingin fitur lebih," ujar Jake Claver dari Digital Ascension Group. Ini menunjukkan keinginan akan kualitas dan fitur tambahan tanpa harus mencapai level kemewahan tertinggi.

Meskipun kelas menengah mampu menikmati gaya hidup yang lebih nyaman, para pakar ekonomi menekankan pentingnya mengarahkan pengeluaran mereka untuk menciptakan fondasi keamanan finansial jangka panjang. "Salah satu kunci membangun kekayaan adalah menyelaraskan setiap pengeluaran dengan nilai dan manfaat jangka panjang," kata Toit. Ia menyoroti urgensi investasi, pembangunan bisnis, serta otomatisasi dalam pengelolaan keuangan pribadi. "Tujuannya bukan sekadar akumulasi pendapatan, melainkan pembangunan ekosistem finansial yang berkelanjutan yang memungkinkan pertumbuhan tanpa tekanan finansial yang berlebihan," pungkasnya.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar