haluannews.id – Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta baru-baru ini mengungkap rahasia di balik stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Menurutnya, kunci utama untuk menjaga agar mata uang Garuda tetap perkasa adalah keseimbangan fundamental antara ketersediaan dan kebutuhan valuta asing di pasar.

Related Post
Dalam sebuah forum edukasi keuangan, Filianingsih menjelaskan bahwa dinamika nilai tukar rupiah tak ubahnya hukum penawaran dan permintaan dalam ekonomi. Jika pasokan dolar melimpah di dalam negeri sementara permintaannya minim, rupiah cenderung menguat. Sebaliknya, saat kebutuhan dolar melonjak namun ketersediaannya terbatas, dolar akan semakin mahal dan rupiah pun tertekan.

Ekspor menjadi salah satu pilar utama penambah pasokan valuta asing. Ketika produk-produk Indonesia berhasil menembus pasar global, para eksportir akan membawa pulang devisa, termasuk dolar AS. Selain itu, investasi asing yang masuk ke tanah air, baik dalam bentuk pembelian surat berharga maupun penanaman modal langsung, turut memperkaya cadangan valas domestik.
Di sisi lain, impor menjadi faktor dominan pendorong tingginya permintaan dolar. Pembelian barang dan jasa dari luar negeri secara umum memerlukan pembayaran dalam mata uang asing, yang secara otomatis meningkatkan kebutuhan akan dolar. Tak hanya itu, arus modal keluar atau outflow, di mana investor asing menarik dananya dari Indonesia, juga memicu lonjakan permintaan valas.
Namun, pergerakan nilai tukar rupiah tidak hanya dikendalikan oleh dinamika penawaran dan permintaan valas semata. Filianingsih menegaskan, setidaknya ada tiga pilar utama yang secara signifikan memengaruhi kekuatan rupiah: faktor fundamental, struktural, dan sentimen.
Faktor fundamental mencakup kondisi neraca transaksi berjalan (current account) dan neraca perdagangan suatu negara. Sementara itu, faktor struktural berkaitan erat dengan tingkat permintaan valuta asing dari berbagai pelaku ekonomi, baik domestik maupun mancanegara. Terakhir, faktor sentimen sangat dipengaruhi oleh gejolak global, seperti konflik geopolitik atau fluktuasi harga komoditas dunia, yang seringkali memicu kenaikan permintaan dolar dan menekan rupiah.
Menjelaskan lebih lanjut, Filianingsih mengilustrasikan bahwa nilai tukar sejatinya adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang negara lain. Sebagai contoh, jika kurs dolar AS berada di Rp 17.000, artinya untuk mendapatkan satu dolar, kita memerlukan Rp 17.000. Apabila kurs kemudian turun menjadi Rp 15.500 per dolar, ini menandakan rupiah menguat, karena lebih sedikit rupiah yang dibutuhkan untuk membeli satu dolar.
Dengan demikian, rupiah cenderung menunjukkan penguatan signifikan ketika pasokan dolar di pasar domestik meningkat. Kondisi ini umumnya terjadi saat ekspor Indonesia tumbuh pesat dan aliran investasi asing deras masuk ke dalam negeri.
Sebaliknya, tekanan terhadap rupiah akan kian terasa manakala kebutuhan akan dolar di dalam negeri melonjak. Hal ini bisa dipicu oleh arus modal keluar yang masif, di mana investor asing menarik dananya, atau peningkatan impor yang mengharuskan pembayaran dalam mata uang asing.










Tinggalkan komentar