Haluannews Ekonomi – Pasar keuangan Indonesia kembali diuji. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat menyentuh level Rp17.600 pada Jumat (15/5/2026), sebuah rekor yang mengkhawatirkan. Namun, bayangan krisis serupa pernah menghantui dua dekade lalu, tepatnya pada 1998, ketika dolar AS melonjak hingga Rp16.800. Kondisi saat itu jauh lebih parah, dengan kenaikan yang cepat dan merembet ke krisis politik yang menggulingkan kekuasaan Presiden Soeharto yang telah berkuasa 32 tahun. Di tengah kekacauan, B.J. Habibie, presiden pengganti, awalnya diragukan kemampuannya untuk mengatasi badai ekonomi. Ia bukan ekonom, melainkan seorang teknokrat yang dianggap menghamburkan uang negara. Bahkan, Lee Kuan Yew dari Singapura pun pesimis. Namun, sejarah mencatat, Habibie justru berhasil menaklukkan dolar dengan strategi tak terduga.

Related Post
Awalnya, skeptisisme terhadap kepemimpinan Habibie dalam bidang ekonomi sangat tinggi. Publik memandangnya sebagai teknokrat pembuat pesawat yang kebijakan-kebijakannya sering dikritik sebagai pemborosan. Ia juga masih dianggap bagian dari rezim Orde Baru yang baru saja tumbang. Keraguan ini diperparah oleh pandangan tokoh regional seperti Lee Kuan Yew, yang khawatir kepemimpinan Habibie justru akan semakin melemahkan rupiah. Namun, Habibie membuktikan sebaliknya, menunjukkan kepemimpinan yang tak terduga dalam menghadapi badai ekonomi yang melanda Indonesia.

Keberhasilan Habibie dalam menjinakkan dolar AS tidak lepas dari tiga pilar strategi ekonomi yang ia terapkan dengan berani dan visioner:
1. Restrukturisasi Perbankan yang Fundamental
Krisis 1998 mengungkap kelemahan sistem perbankan Indonesia, yang tumbuh pesat pasca-Paket Oktober 1988 tanpa diimbangi regulasi dan pengawasan yang memadai. Akibatnya, banyak bank kolaps dan terjadi penarikan dana besar-besaran oleh nasabah. Habibie merespons dengan mencabut aturan yang mempermudah pendirian bank dan melakukan konsolidasi besar-besaran. Empat bank milik pemerintah digabungkan menjadi satu entitas raksasa, Bank Mandiri. Lebih jauh, ia memisahkan Bank Indonesia dari intervensi pemerintah melalui Undang-Undang No. 23 Tahun 1999. Dalam otobiografinya, "Detik-detik yang Menentukan" (2006), Habibie menegaskan bahwa langkah ini krusial untuk menguatkan rupiah, memastikan Bank Indonesia independen, objektif, dan bebas dari tekanan politik.
2. Kebijakan Moneter Ketat untuk Membangun Kepercayaan
Untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan dan mengendalikan inflasi yang merajalela, Habibie menerapkan kebijakan moneter ketat melalui penerbitan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan bunga tinggi. Tujuannya jelas: mendorong masyarakat untuk kembali menabung di bank, mengurangi peredaran uang di masyarakat, dan menstabilkan nilai tukar rupiah. Strategi ini terbukti efektif. Suku bunga yang sempat melambung hingga 60% berhasil ditekan menjadi belasan persen, dan kepercayaan terhadap perbankan pun perlahan pulih, memicu kembali aktivitas ekonomi.
3. Pengendalian Harga Bahan Pokok untuk Stabilitas Sosial
Habibie menyadari bahwa stabilitas harga kebutuhan pokok adalah kunci untuk menjaga ketenangan sosial dan daya beli masyarakat di tengah krisis. Ia memutuskan untuk mempertahankan harga listrik dan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi agar tidak naik, memastikan bahwa harga bahan pokok tetap terjangkau. Meskipun demikian, kebijakan ini juga diwarnai kontroversi, seperti anjuran Habibie agar rakyat berpuasa Senin-Kamis untuk berhemat. "Ketika terjadi masa krisis saat B.J. Habibie diangkat menjadi presiden, ia menganjurkan rakyat melakukan puasa Senin-Kamis," tulis A. Makmur Makka dalam biografi "Inspirasi Habibie" (2020).
Pada akhirnya, kombinasi ketiga strategi ini berhasil memulihkan kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia. Aliran dana investor kembali masuk, dan yang terpenting, nilai dolar AS berhasil dijinakkan, kembali terkendali hingga mencapai level Rp6.550. Sebuah pencapaian luar biasa yang membuktikan bahwa kepemimpinan visioner dan keberanian dalam mengambil keputusan strategis mampu membalikkan keadaan di tengah badai krisis, meninggalkan warisan penting bagi stabilitas ekonomi bangsa.
Editor: Rohman









Tinggalkan komentar